Untungnya, kerusakan parah bisa dihindari. Api, meski membakar karpet dan merusak pintu depan, tidak menjalar ke seluruh struktur bangunan. Jadi, kerusakan strukturalnya tidak terjadi.
Kemarahan warga Palestina langsung menyala. Gubernur wilayah Nablus, Ghassan Daghlas, yang wilayahnya mencakup Desa Tell, mengutuk keras aksi ini. Dia bahkan turun langsung ke lokasi.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, terlihat Daghlas memegang selang air, membantu membersihkan puing-puing kejadian. Suaranya tegas penuh keyakinan.
"Mereka membakar masjid, dan kamilah yang membangunnya kembali. Ini tanah kami, tanah Palestina," ujarnya.
Insiden ini terjadi dalam konteks ketegangan yang sudah lama mengakar. Lebih dari setengah juta warga Israel tinggal di berbagai pemukiman dan pos terdepan di Tepi Barat. Keberadaan mereka dianggap ilegal menurut hukum internasional, sebuah pandangan yang kerap ditolak oleh pemerintah Israel.
Sementara itu, sekitar tiga juta warga Palestina terus hidup di wilayah yang telah diduduki Israel sejak Perang 1967 itu. Pemerintah Israel saat ini, yang disebut-sebut sebagai salah satu yang paling sayap kanan dalam sejarah negara itu, justru mempercepat ekspansi pemukiman. Bahkan beberapa pos terdepan telah diakui secara resmi. Situasinya rumit, dan insiden seperti di Desa Tell ini hanyalah satu episode dari ketegangan yang tiada henti.
Artikel Terkait
Ketua Parlemen Iran: Waktu AS dan Israel Patuhi Gencatan Senjata di Lebanon Hampir Habis
Polisi Tangkap Pelaku Penculikan dan Penyekapan Anak 10 Tahun di Cirebon
Geopolitik Panas Ganggu Pasokan Minyak, Aktivis Dorong Percepatan Pengurangan Plastik Sekali Pakai
Empat Pelaku Penipuan Mengatasnamakan Pimpinan KPK Ditangkap di Jakarta