“Prinsipnya sama. BoP ini juga sudah diakui PBB. Jadi bukan sesuatu yang terpisah atau bertentangan. Cuma memang ada jalur lain. Selama di situ ada celah harapan, Indonesia wajib mencoba. Langkah Pak Presiden ini berani,” sambung Meutya.
Lalu, apa pertimbangan Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah ini? Meutya mengungkap, Prabowo sadar betul ini mungkin bukan keputusan populer.
“Beliau sempat bilang, ‘Kalau ini tidak populis saya tidak apa-apa. Saya rasa ini yang benar dan kita harus mencoba, berusaha sekuatnya untuk kemerdekaan Palestina’,” tutur Meutya menirukan.
Bagi Meutya, bergabung dengan BoP adalah pendekatan paling realistis saat ini. Cara-cara lama, katanya, sudah jelas nggak bekerja. “Lihat saja 10 tahun terakhir, pendekatan itu nggak membawa kita lebih dekat pada kemerdekaan Palestina. Buktinya sampai sekarang. Kenapa nggak coba hal lain seperti ini?” ungkapnya dengan nada bertanya.
Setiap keputusan tentu ada risikonya. Presiden pun paham itu. Namun, semangat untuk mencoba selama ada harapan tetap jadi pendorong utama.
“Tapi beliau juga selalu bilang, kalau ini ternyata melanggar prinsip kita sebagai negara yang menjunjung kemerdekaan Palestina, ya beliau akan keluar. Indonesia akan keluar. Opsi itu selalu terbuka,” pungkas Meutya menegaskan.
Artikel Terkait
Harga Plastik Melonjak Drastis, UMKM Makanan dan Minuman Tertekan
Ayah dan Anak di Agats Tewas Usai Saling Serang dengan Parang
BPBD DKI Tegaskan Semua ASN WFO, Tak Ada Pengecualian WFH
Oracle PHK Ribuan Karyawan demi Investasi AI, Tapi Gaji CFO Baru Capai Miliaran Rupiah