Senin pagi, 23 Februari 2026, IHSG menyambut pasar dengan warna hijau. Indeks dibuka di level 8.334,543, langsung menunjukkan sinyal optimis di awal pekan.
Tak butuh waktu lama, sentimen positif langsung mendorong penguatan. Hanya dalam hitungan menit, tepatnya hingga pukul 09.20 WIB, IHSG sudah melesat 77,825 poin atau 0,94% ke posisi 8.349,592. Sepanjang pergerakannya pagi ini, indeks sempat menyentuh level tertinggi 8.375,081 dan terendah 8.327,567.
Kondisi ini cukup menarik, mengingat perdagangan Jumat lalu justru ditutup dengan penurunan tipis 0,03%. Yang lebih mencolok, aksi jual asing atau net sell tercatat cukup besar, mencapai Rp361 miliar. Beberapa saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain BBCA, ANTM, GOTO, MBMA, dan INDF.
Lalu, apa yang memicu penguatan pagi ini? Ternyata, angin segar datang dari Wall Street. Bursa saham AS ditutup menguat pada Jumat (21/2), dengan saham-saham raksasa teknologi seperti Alphabet dan Amazon menjadi motor penggerak. Kenaikan ini dipicu keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif global era Presiden Donald Trump.
Indeks S&P 500 naik 0,69%, Nasdaq melompat 0,90%, dan Dow Jones bertambah 0,47%. Saham Alphabet sendiri meroket 3,7%, diikuti Amazon yang naik 2,6% dan Apple menguat 1,5%.
Namun begitu, kondisi di kawasan Asia-Pasifik pada hari Jumat kemarin justru beragam. Sentimen negatif muncul dari tekanan di sektor private credit dan meningkatnya kembali ketegangan AS-Iran. Indeks Nikkei 225 dan Topix di Jepang sama-sama anjlok lebih dari 1%. Sementara itu, Kospi Korea Selatan justru naik 2,31%, meski Kosdaq-nya melemah. Pasar China dan Hong Kong masih libur Imlek.
Menyikapi kondisi global yang beragam ini, Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memberikan pandangannya.
“Menyikapi beragam kondisi tersebut di atas, IHSG berpotensi untuk bergerak sideways hari ini. Diperkirakan, Support IHSG: 8200-8230 dan Resist IHSG: 8350-8420,” ujar Fanny.
Di sisi lain, riset harian dari BNI Sekuritas juga menyodorkan beberapa ide trading untuk hari ini. Rekomendasinya mencakup enam saham dengan strategi yang berbeda-beda.
Pertama, ERAA. Rekomendasi: Spec Buy di area Rp422-Rp430 dengan cutloss di bawah Rp418. Targetnya Rp434-Rp440.
Kedua, ARCI. Bisa dipertimbangkan untuk Spec Buy pada kisaran harga Rp1.785-Rp1.810. Letakkan cutloss di bawah Rp1.760 dan targetkan kenaikan ke level Rp1.820-Rp1.850.
Ketiga, HRTA. Masuk dengan strategi Spec Buy di area Rp2.730-Rp2.750. Batas rugi di Rp2.700, sementara target keuntungan dekat ada di rentang Rp2.800-Rp2.860.
Keempat, MEDC. Rekomendasi beli (Spec Buy) di harga Rp1.720-Rp1.730. Jika harga tembus di bawah Rp1.700, sebaiknya cutloss. Target pergerakannya adalah Rp1.755-Rp1.780.
Kelima, JPFA. Untuk saham ini, strateginya agak berbeda: Buy on Weakness. Area beli ada di Rp2.320-Rp2.380 dengan cutloss ketat di Rp2.300. Target dekatnya adalah Rp2.430-Rp2.480.
Terakhir, AMRT. Sama seperti JPFA, strateginya adalah Buy on Weakness. Bisa dibeli di kisaran Rp1.790-Rp1.815. Batas cutloss di Rp1.780, dan targetkan kenaikan ke level Rp1.835-Rp1.870.
Artikel Terkait
Hyundai Ioniq 5 N Resmi Hadir, Pacu 650 PS untuk Pengalaman Berkendara Ekstrem
Menkumham Yusril Prihatin dan Sesalkan Penganiayaan Siswa Tual oleh Oknum Brimob
Komisi III DPR Soroti Tuntutan Mati untuk ABK dalam Kasus Sabu 2 Ton
Investor Himawan Sutanto Kurangi Kepemilikan Saham BAPI Rp26,38 Juta Lembar