Warna itu masih dipakai sampai sekarang, misalnya sebagai panji Kraton Majapahit atau jack TNI AL. Maknanya dalam kosmologi Nusantara sangat dalam: merah adalah darah, keberanian, bumi; putih adalah tulang, kesucian, langit. Ini simbol kesatuan raga dan jiwa, keberanian yang suci. Dalam filosofi Jawa, merah adalah ibu (rahim), putih adalah ayah (benih) simbol kelahiran sebuah bangsa.
Simbolisme ini menggambarkan kekuasaan duniawi, kedaulatan di bumi Nusantara. Dan kemegahan ini bukan cuma cerita kita sendiri. Seorang biarawan Fransiskan asal Italia, Odoric Pordenone, sudah mencatatnya pada awal abad ke-14 jauh sebelum Vasco da Gama berlayar.
Odoric terpukau. Ia menggambarkan Majapahit di era Raja Jayanegara sebagai kerajaan yang ajaib dan kaya raya. Tanahnya subur, buah-buahan melimpah, rakyatnya sejahtera. Baginya, hampir seperti surga dunia. Apalagi bagi orang Eropa abad ke-14 yang akrab dengan kelaparan.
Ia juga melihat jaringan perdagangan maritim yang luas. Kapal-kapal besar Majapahit hilir-mudik, bertransaksi dengan pedagang dari India, Cina, Arab, dan seluruh Asia Tenggara. Ia sadar, kawasan ini adalah pusat, bukan pinggiran.
Yang membuatnya kagum adalah masyarakatnya yang ramah, disiplin, dan makmur tanpa aturan agama Kristen yang kaku seperti di Eropa. Hindu dan Buddha hidup berdampingan dengan toleransi. Catatannya ini penting karena mengguncang anggapan Eropa saat itu bahwa hanya dunia Kristen yang bisa maju. Nada tulisannya penuh kekaguman, bukan merendahkan.
Jadi, melalui mata Odoric, imajinasi Eropa mulai terbentuk: Timur adalah dunia kemakmuran, Barat adalah dunia kekurangan. Fakta ini membalik narasi kolonial. Nusantara bukan periferi, melainkan pusat keunggulan yang sudah ada sejak lama.
AM Hendropriyono
Artikel Terkait
PSG Kalahkan Liverpool 2-0, Kokohkan Posisi Jelang Leg Kedua
Harga Emas Perhiasan Tembus Rp2,4 Juta per Gram pada 9 April 2026
Kisah Mardi Rambo dan Pengorbanan Prajurit Garuda di Medan Perdamaian
Promotor Ungkap Tantangan Yakinkan Patrick Kluivert Tampil Lagi di Indonesia