Namun, janji manis itu berubah menjadi mimpi buruk bagi para korban. Mereka justru mengalami berbagai bentuk eksploitasi dan perlakuan tidak manusiawi setelah tiba di lokasi.
"Namun faktanya korban mengalami kekerasan berat, termasuk penyitaan paspor, upah yang tidak dibayarkan, serta kondisi pemaksaan yang mengharuskan korban membayar biaya sangat tinggi untuk mengundurkan diri atau kembali ke Indonesia," jelas Ricky.
Perburuan Berkat Kerja Sama Internasional
Kesuksesan penangkapan ini tidak lepas dari koordinasi dan pertukaran informasi yang solid antar-lembaga penegak hukum lintas negara. Jejak Rifaldo mulai terendus ketika NCB Interpol Indonesia mendapatkan informasi krusial dari rekan mereka di Manila, Filipina, pada Jumat (20/2).
Informasi itu menyebutkan bahwa buronan tersebut terpantau sedang dalam perjalanan dari Kamboja menuju Filipina. Dari sana, pergerakannya dilacak hingga diketahui akan melanjutkan penerbangan ke Bali. Alur informasi yang lancar inilah yang memungkinkan tim di lapangan bergerak dengan presisi dan mengantisipasi kedatangannya.
Untuk mengungkap jaringan dan peran tersangka secara lebih mendalam, pemeriksaan intensif masih terus dilakukan.
"Saat ini yang bersangkutan masih dalam pemeriksaan intensif," pungkas Kombes Ricky Purnama.
Artikel Terkait
PSG Kalahkan Liverpool 2-0, Kokohkan Posisi Jelang Leg Kedua
Harga Emas Perhiasan Tembus Rp2,4 Juta per Gram pada 9 April 2026
Kisah Mardi Rambo dan Pengorbanan Prajurit Garuda di Medan Perdamaian
Promotor Ungkap Tantangan Yakinkan Patrick Kluivert Tampil Lagi di Indonesia