"Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil," jelasnya.
Ada hipotesis menarik lain: kemungkinan ada aliran air tanah yang menggerus batas antara lapisan tufa yang lemah dan batuan padat di bawahnya. Akibatnya, bagian atas tebing kehilangan penyangga dan runtuh berangsur-angsur.
Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal aneh di daerah dengan batuan vulkanik muda. Ambil contoh Ngarai Sianok di Sumatera Barat. Itu terbentuk dari proses geologi panjang dengan karakter batuan yang mirip, terkait aktivitas Sesar Besar Sumatera.
Nah, untuk kasus di Aceh Tengah ini, BRIN sendiri belum turun langsung ke lapangan. Analisis mereka masih bersumber dari citra satelit dan data-data publik yang tersedia.
"Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif," kata Adrin.
Meski begitu, ia sudah mengusulkan langkah konkret. Peta kerentanan gerakan tanah di daerah itu, menurutnya, perlu segera diperbarui pasca-kejadian ini. Masyarakat juga diminta waspada. Retakan tanah atau amblesan kecil di sekitar lokasi bisa jadi tanda awal yang harus diwaspadai.
"Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari," pungkas Adrin.
Artikel Terkait
Plt Kades Tamainusi Jadi Tersangka Korupsi Dana CSR Rp9,6 Miliar
Serangan Israel di Teheran Hancurkan Sinagoge Bersejarah dan Kampus Bergengsi
Survei: Program Pemerintah Dinilai Tepat Sasaran, Kepuasan Mudik Lebaran 2026 Melonjak
Serangan Udara di Basra Tewaskan Tiga Warga Sipil