Yang bikin situasi ini makin pelik adalah profil penghuni di sekitar lokasi. Naufal menyebut ada tiga rumah yang dihuni oleh orang tua, termasuk neneknya yang sudah sepuh berusia 90 tahun. Belum lagi tetangga sebelah yang baru saja punya bayi. Bayangkan saja, suasana yang seharusnya tenang justru dipenuhi keriuhan.
“Iya, semuanya yang tinggal di sini ngeluh,” imbuhnya. “Nggak fokus salat, nggak fokus siap-siap, mau mandi saja nggak fokus lah gitu. Mau siap-siap ke kantor nggak fokus, mau ngumpulin energi buat besoknya mau kerja juga nggak fokus. Sama stres, jadi gampang marah juga.”
Dampaknya bahkan sampai ke kesehatan. Ibunda Naufal mengalami kenaikan tensi yang drastis, sebuah fakta yang sulit diabaikan.
“Terutama ibu saya langsung kelihatan tensinya 200, itu kan nyata ya,” katanya dengan nada prihatin. “Maksudnya itu bukan feeling gitu, beneran bisa diukur tensinya dia 200.”
Di tengah situasi yang serba tak nyaman ini, pengelola lapangan sempat memberikan janji. Mereka berencana memasang peredam suara untuk meredam kebisingan. Warga seperti Naufal tentu masih menunggu, berharap janji itu tak sekadar wacana belaka. Mereka hanya ingin ketenangan, sesuatu yang seharusnya bukan jadi barang mewah di tempat tinggal sendiri.
Artikel Terkait
Bea Cukai dan Pajak Segel Empat Kapal Asing di Pantai Mutiara Diduga Selewengkan Fasilitas
Banyuwangi Catat Inflasi Terendah di Maret 2026 Meski Ada Tekanan Ramadan
WFH Aparatur Pemerintah: Disiplin dan Digitalisasi Kunci Jaga Kualitas Pelayanan Publik
Imigrasi Amankan Tiga Warga Australia Masuk Ilegal ke Merauke via Pesawat Pribadi