Warga Haji Nawi Keluhkan Kebisingan Lapangan Padel hingga Tensi Naik Drastis

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 07:40 WIB
Warga Haji Nawi Keluhkan Kebisingan Lapangan Padel hingga Tensi Naik Drastis

Suara bola yang memantul dan sorak-sorai pemain terus menerus memecah kesunyian malam di kawasan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Bagi Naufal (27), ini bukan lagi sekadar gangguan, melainkan sumber stres yang nyata bagi keluarganya dan tetangga di sekitarnya. Keluhan mereka sudah berulang kali disampaikan, namun sepertinya belum ada solusi permanen.

“Aku tuh tadinya November satu laporan, Desember satu laporan, Januari sama Februari itu seminggu tiga kali laporan aku lewat JAKI gitu,” ujar Naufal saat kami temui di rumahnya, Kamis lalu.

Dia melanjutkan dengan nada kesal, “Ya sudah, jadi karena banyaknya laporan-laporan yang sudah kita lakuin, dan sudah sempat ketemu juga sama pihak pengelola tanggal 31 Januari, tapi hasil mediasinya tidak membuahkan hasil lagi gitu.”

Kebisingan itu, menurut penuturannya, sudah berlangsung sejak masa pembangunan lapangan padel tersebut. Kini, sumbernya berganti pada aktivitas bermain yang bisa berlangsung dari pagi buta hingga larut malam. Suara bola dan teriakan pemainlah yang paling mengganggu.

“Tapi perlu dicatat,” jelasnya sambil menekankan poinnya, “kalau jam 6 pagi sampai jam 12 malam itu waktu awal-awal diomongin, maksudnya Januari sampai Februari awal. Setelahnya mereka komit sampai jam 10, cuma ada beberapa kali kita ketemu jam 10 tuh masih ketawa-ketawa, masih main.”

Yang bikin situasi ini makin pelik adalah profil penghuni di sekitar lokasi. Naufal menyebut ada tiga rumah yang dihuni oleh orang tua, termasuk neneknya yang sudah sepuh berusia 90 tahun. Belum lagi tetangga sebelah yang baru saja punya bayi. Bayangkan saja, suasana yang seharusnya tenang justru dipenuhi keriuhan.

“Iya, semuanya yang tinggal di sini ngeluh,” imbuhnya. “Nggak fokus salat, nggak fokus siap-siap, mau mandi saja nggak fokus lah gitu. Mau siap-siap ke kantor nggak fokus, mau ngumpulin energi buat besoknya mau kerja juga nggak fokus. Sama stres, jadi gampang marah juga.”

Dampaknya bahkan sampai ke kesehatan. Ibunda Naufal mengalami kenaikan tensi yang drastis, sebuah fakta yang sulit diabaikan.

“Terutama ibu saya langsung kelihatan tensinya 200, itu kan nyata ya,” katanya dengan nada prihatin. “Maksudnya itu bukan feeling gitu, beneran bisa diukur tensinya dia 200.”

Di tengah situasi yang serba tak nyaman ini, pengelola lapangan sempat memberikan janji. Mereka berencana memasang peredam suara untuk meredam kebisingan. Warga seperti Naufal tentu masih menunggu, berharap janji itu tak sekadar wacana belaka. Mereka hanya ingin ketenangan, sesuatu yang seharusnya bukan jadi barang mewah di tempat tinggal sendiri.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar