"Kita akan mendapatkan kesepakatan, atau itu akan menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi mereka," ujar Trump kepada awak media.
Namun, Araghchi dengan tegas membantah adanya paksaan waktu semacam itu. Ia mencoba meredam narasi konfrontatif dengan menekankan bahwa kedua belah pihak sama-sama menginginkan penyelesaian yang cepat.
"Yah, saya harus mengatakan bahwa pertama-tama, tidak ada ultimatum. Kami hanya berbicara satu sama lain tentang bagaimana kami dapat mencapai kesepakatan yang cepat. Dan kesepakatan yang cepat adalah sesuatu yang diminati kedua belah pihak," tutur Araghchi.
Ketegangan yang Belum Reda
Meski Araghchi menyangkal adanya ultimatum, nada peringatan dari Washington tetap menggantung dalam dinamika perundingan ini. Trump secara konsisten menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengancam stabilitas kawasan dan harus dicegah untuk mengembangkan senjata nuklir. Ia memperingatkan bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika tidak tercapai kesepakatan yang substansial.
Di sisi lain, Iran telah berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai dan sipil. Jarak antara posisi kedua negara ini menciptakan medan diplomasi yang rumit, di mana waktu dan kepercayaan menjadi faktor kritis. Penyampaian rancangan kesepakatan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi ujian nyata bagi komitmen kedua pihak untuk menghindari jalan buntu yang berbahaya.
Artikel Terkait
Serangan Israel di Beirut Tewaskan Ratusan, Guncang Lebanon
Atletico Hancurkan Barcelona 2-0 di Camp Nou, Tuan Rumah Terancam Tersingkir
PSG Kalahkan Liverpool 2-0, Kokohkan Posisi Jelang Leg Kedua
Harga Emas Perhiasan Tembus Rp2,4 Juta per Gram pada 9 April 2026