Ia menekankan, catatan-catatan kritis tadi butuh langkah nyata dan terukur. Tanpa itu, berbagai kendala yang menghambat PAUD akan terus berlarut-larut tanpa solusi yang tepat.
Rerie khawatir, kondisi ini bakal memicu masalah besar nantinya. Keterbatasan akses masyarakat terhadap PAUD berpotensi melebarkan kesenjangan kualitas SDM nasional ke depannya. Bayangkan, anak yang dapat stimulasi pendidikan dini akan punya pondasi yang jauh berbeda dengan yang tidak. Itu fakta.
Fondasi belajar yang kokoh itu, tambahnya, adalah kunci. Fondasi itulah yang membentuk proses tumbuh kembang anak menjadi individu berkarakter kuat dan siap bersaing.
Karena itu, dukungan semua pihak mutlak diperlukan. Para pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah, harus bahu-membahu. Tujuannya satu: menghadirkan pendidikan berkualitas sejak dini untuk setiap anak Indonesia.
“Saya berharap PAUD bisa tersebar merata dan mudah diakses, hingga ke desa-desa paling terpencil sekalipun,” pungkas Rerie.
Harapannya besar. Dengan pemerataan akses pendidikan dini, akan lahir generasi penerus yang tidak hanya berdaya saing, tapi juga mampu mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Artikel Terkait
MA Tetapkan BPK Sebagai Satu-Satunya Lembaga Penghitung Kerugian Negara
WHO Tetapkan Bersama untuk Kesehatan, Berdiri dengan Sains sebagai Tema Hari Kesehatan Sedunia 2026
IHSG Tertekan Ketegangan Timur Tengah dan Daftar Saham BEI
Polisi Banten Siap Panggil Mahasiswa Diduga Rekam Dosen di Toilet Kampus