Trump Beri Ultimatum 10-15 Hari ke Iran, Ancaman Militer dan Minyak Melonjak

- Jumat, 20 Februari 2026 | 17:50 WIB
Trump Beri Ultimatum 10-15 Hari ke Iran, Ancaman Militer dan Minyak Melonjak

"Saya pikir ini serius, ini bukan gertakan. Ini bukan untuk pertunjukan. Ini bukan aksi sensasional," jelas Hoh. "Jenis kekuatan yang ditempatkan Amerika Serikat di Timur Tengah adalah kekuatan yang mampu melaksanakan operasi yang ingin dilakukan oleh pihak-pihak di Washington, DC."

Ia juga menyoroti pentingnya pengerahan aset pendukung seperti pesawat perang elektronik dan komando, yang biasanya hanya dikirim jika ada niat operasional yang konkret. Lebih jauh, Hoh mengingatkan bagaimana sejarah panjang konflik, termasuk penarikan sepihak AS dari perjanjian nuklir 2018 dan serangkaian operasi sabotase, membuat Iran sulit mempercayai Washington, yang semakin mempersulit jalan diplomasi.

"Yang pertama dan utama di benak Iran adalah apakah mereka bisa mempercayai Amerika," lanjutnya. "Satu dekade terakhir sabotase oleh AS dan Israel, pembunuhan ilmuwan, serangan siber terhadap Iran. Semua hal itu harus diperhitungkan dan membawa Iran pada pertanyaan, bagaimana mereka bisa mempercayai Amerika."

Peringatan Keras dan Latihan Militer Iran

Menghadapi tekanan yang meningkat, Iran tidak tinggal diam. Pemerintah di Teheran telah mengirimkan peringatan resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyatakan bahwa mereka akan merespons secara "tegas dan menentukan" terhadap agresi militer apa pun. Dalam suratnya, Iran menilai retorika Trump mengandung "risiko nyata" terjadinya serangan dan menyatakan bahwa semua pangkalan serta aset militer "kekuatan yang bermusuhan" di kawasan akan menjadi target sah jika Iran diserang.

Sebagai bentuk kesiapan dan penunjukkan kekuatan, Iran bersama sekutunya, Rusia, menggelar latihan militer tahunan di perairan strategis Teluk Oman dan Selat Hormuz pada hari yang sama dengan ultimatum Trump. Latihan yang melibatkan tembak langsung ini, menurut kantor berita pemerintah IRNA, bertujuan meningkatkan koordinasi dan pertukaran pengalaman militer. Jalur pelayaran ini merupakan urat nadi ekonomi bagi Iran dan negara-negara produsen minyak di Teluk.

Langkah ini terjadi di tengah tahun yang penuh tekanan bagi pemerintahan Iran, yang menghadapi konflik terbatas dengan Israel, serangan terhadap program nuklirnya, serta gejolak protes dalam negeri. Meski perang belum menjadi keniscayaan, eskalasi militer dan retorika dari kedua belah pihak telah menciptakan atmosfer yang sangat mencemaskan.

Dampak Langsung pada Pasar Minyak Global

Ketegangan geopolitik di jantung kawasan penghasil minyak segera berimbas pada pasar komoditas global. Harga minyak mentah mengalami kenaikan tajam, melanjutkan tren dari hari sebelumnya. Minyak patokan Brent berhasil menembus level US$70 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli tahun lalu, dan bahkan terus menguat hingga mendekati US$72.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kenaikan ini mengingatkan pasar pada lonjakan harga singkat pada musim panas 2025, yang dipicu oleh konflik serupa antara Israel dan Iran. Setelah sempat stabil dan turun dari puncaknya pada awal 2022, ketegangan terbaru ini kembali menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas harga minyak terhadap gejolak politik di Timur Tengah.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar