“Hindari membangunkan sahur terlalu dini yang dapat mengganggu waktu istirahat masyarakat,” tegasnya. “Gunakan volume yang wajar, jangan berteriak-teriak atau menggunakan pengeras suara secara berlebihan. Gunakan nada yang merdu atau pesan yang santun,” lanjut Gus Fahrur.
Musyawarah di Lingkungan yang Plural
Lebih jauh, Gus Fahrur mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Ia menyoroti pentingnya memperhatikan keberadaan kelompok rentan seperti lansia, orang sakit, bayi, maupun tetangga yang non-muslim. Dalam konteks ini, musyawarah dengan warga sekitar dinilai sebagai langkah bijaksana untuk menemukan titik temu yang nyaman bagi semua pihak.
“Toleransi lingkungan, harap perhatikan keberadaan tetangga non-muslim, lansia, orang sakit, atau bayi yang tidak berkewajiban sahur. Di lingkungan plural, sebaiknya minta izin atau bermusyawarah terlebih dahulu mengenai cara membangunkan sahur,” imbaunya.
Penetapan Awal Ramadan 1447 H
Imbauan ini disampaikan seiring dengan dimulainya Ramadan 1447 Hijriah. Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Ramadan jatuh pada hari ini, 19 Februari 2026. Sementara itu, PP Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan awal puasa pada Rabu, 18 Februari 2026. Perbedaan ini, yang kerap terjadi akibat metode penentuan yang berbeda, justru menggarisbawahi pesan inti dari Gus Fahrur: pentingnya saling menghormati dalam keragaman, termasuk dalam menjalankan tradisi keagamaan.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang
Sidang Perdana Tiga Prajurit Kopassus Terkait Pembunuhan Kepala Bank
Arus Tol Menuju Jakarta Padat Usai Libur Panjang Paskah
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Pasar Keluhkan Kenaikan 50%