Elang Alap Kelabu Sulawesi, Predator Penyergap yang Terancam Fragmentasi Habitat

- Rabu, 18 Februari 2026 | 06:15 WIB
Elang Alap Kelabu Sulawesi, Predator Penyergap yang Terancam Fragmentasi Habitat

"Dalam teori ekologi perilaku, strategi ini dianggap efisien secara energi. Model ini dijelaskan oleh Stephens dan Krebs dalam foraging theory (1986). Elang alap kelabu Sulawesi menjadi contoh nyata teori tersebut di alam liar," ungkapnya.

Gaya terbangnya yang lincah dan kemampuan manuver dalam ruang sempit sangat cocok dengan kondisi hutan rapat Sulawesi. Untuk komunikasi, ia mengandalkan siulan cepat berulang, "kik-kik-kik-kik", yang intensitasnya meningkat saat musim berbiak.

Siklus Hidup dan Tantangan Konservasi

Sebagai spesies penetap, elang ini membangun teritori dan hidup relatif stabil di wilayahnya. Musim berbiak umumnya berlangsung pada periode kering. Sarang dari ranting dan dedaunan dibangun di pohon tinggi yang tersembunyi, tempat betina mendominasi pengeraman 2-3 butir telur selama sekitar sebulan, sementara jantan bertugas menyediakan makanan. Anak burung membutuhkan waktu belajar beberapa bulan sebelum benar-benar mandiri.

Meski status konservasinya saat ini dicatat sebagai Risika Rendah, kenyataan di lapangan penuh dengan tantangan. Ancaman utama berasal dari hilangnya habitat akibat deforestasi dan fragmentasi hutan, yang secara bertahap menyempitkan wilayah berburu dan bersarang. Perlindungan hukum, termasuk Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 yang mencakup burung pemangsa, memang telah ada.

Namun, para pengamat konservasi menekankan bahwa status hukum saja tidak cukup.

"Kerangka hukum ini penting, tetapi implementasi tetap menjadi tantangan," tegasnya.

Keberadaan elang alap kelabu Sulawesi, sang predator senyap dari Wallacea, bukan hanya soal kelestarian satu spesies. Ia adalah penjaga keseimbangan yang mengontrol populasi hewan kecil, dan kehadirannya menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan Sulawesi yang tak tergantikan.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar