Kekayaan intelektual itu, menurutnya, adalah nilai yang bisa dikelola menjadi aset kreatif masyarakat.
Gagasan tersebut rupanya bukan hal baru bagi Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Rektornya, Prof. Dr. Jebul Suroso, menyambut baik tantangan itu.
"Kami sepakat," tegasnya.
Visinya sejalan: kampus harus melahirkan pencipta lapangan kerja, bukan pencari kerja. UMP sendiri sudah mulai mengarah ke sana lewat apa yang disebut smart curriculum.
Implementasinya? Bisa dilihat dari program hilirisasi kelapa kopyor. Dari sana lahir berbagai produk turunan, termasuk olahan cokelat, yang memberi nilai tambah. Tak hanya itu, ada juga program profesor berdampak. Para akademisi ini turun langsung memberdayakan masyarakat, misalnya di Kampung Inggris Banyumas yang jadi kawasan wisata edukasi.
Jadi, diskusi itu bukan sekadar wacana. Ada benih yang sudah ditanam, dan kini mendapat dorongan untuk tumbuh lebih cepat. Pertanyaannya sekarang, apakah indikator kesuksesan kampus memang akan bergeser? Dari sekadar nilai akademik, menjadi nyata kontribusinya di dunia usaha. Waktulah yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Pemerintah Percepat Fasilitas Kesehatan Penunjang IKN di Penajam Paser Utara
Gubernur DKI: Ukhuwah Islamiyah Bisa Cegah Perang Berkepanjangan di Timur Tengah
Politisi Desak Penegakan Hukum atas Intimidasi Petugas Kebersihan di Cengkareng
Cuaca Panas Ekstrem Ancam Kesehatan, Waspadai Panas Dalam hingga Heatstroke