Bentrokan di Bnei Brak Usai Tentara Perempuan Dikejar Massa Ultra-Ortodoks

- Selasa, 17 Februari 2026 | 15:40 WIB
Bentrokan di Bnei Brak Usai Tentara Perempuan Dikejar Massa Ultra-Ortodoks

Tak cuma politisi, pemimpin agama Yahudi pun ikut mengutuk tindakan kasar terhadap tentara perempuan itu.

Di lapangan, situasinya sungguh panas. Polisi terpaksa melemparkan granat untuk membubarkan massa yang mengamuk. Total 23 orang diamankan. Tiga polisi mengalami luka-luka, beberapa kendaraan dinas rusak parah bahkan ada mobil patroli yang terbalik dan sepeda motor yang dibakar. Menurut laporan stasiun TV Israel Kan, bentrokan pecah ketika para tentara perempuan itu sedang dalam kunjungan resmi ke rumah rekan mereka.

Isu wajib militer ini memang seperti bara dalam sekam. Memanas luar biasa pasca konflik Gaza Oktober tahun lalu. Pemerintah saat ini sedang menggodok RUU yang akan mewajibkan pemuda ultra-Ortodoks untuk ikut wajib militer, kecuali mereka yang benar-benar fokus pada studi agama penuh waktu.

Padahal, sejak 1948, siswa yeshiva selalu dibebaskan dari tugas ini. Tapi lebih dari sepuluh tahun silam, Mahkamah Agung Israel sudah menyatakan pembebasan itu inkonstitusional. Keputusan pengadilan akhirnya menghentikan pengecualian itu secara resmi, memaksa pemerintah untuk mulai melakukan penarikan.

Yang jadi persoalan, populasi mereka terus membengkak. Dalam tujuh dekade terakhir, jumlah komunitas ultra-Ortodoks melonjak lebih dari dua kali lipat dan sekarang menyumbang sekitar 14% dari total penduduk Israel. Tekanannya semakin terasa. Belum lama ini, bahkan terjadi protes massal anti-wajib militer terbesar yang melibatkan ratusan ribu orang. Semuanya menandakan bahwa jalan menuju aturan yang lebih setara ini masih panjang dan berliku.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar