Analis: Peluang Teddy Indra Wijaya Jadi Cawapres Prabowo 2029 Masih Terbuka

- Selasa, 17 Februari 2026 | 03:30 WIB
Analis: Peluang Teddy Indra Wijaya Jadi Cawapres Prabowo 2029 Masih Terbuka

MURIANETWORK.COM - Peluang Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya untuk mendampingi Presiden terpilih Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 dinilai masih sangat terbuka. Pengamat politik Jamiluddin Ritonga bahkan menyebut peluang Teddy bisa lebih besar dibandingkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Analisis ini disampaikan dengan mempertimbangkan dinamika politik yang masih cair, di mana kinerja, persepsi publik, dan strategi partai akan menjadi faktor penentu dalam lima tahun mendatang.

Kinerja di Lingkar Inti Pemerintahan Jadi Modal

Menurut Jamiluddin, posisi Teddy sebagai Seskab merupakan aset strategis. Jabatan yang berada di jantung pemerintahan ini memberinya peran krusial dalam mengawal efektivitas program presiden. Konsistensi kinerja di posisi tersebut, jika berlangsung stabil dan mendapat apresiasi hingga 2028, dapat menjadi modal politik yang signifikan.

“Tahun 2028 akan menjadi fase krusial. Jika performa Teddy tetap positif sampai saat itu, peluangnya untuk dilirik partai koalisi tentu semakin besar,” jelas Jamiluddin.

Namun, ia mengingatkan bahwa kinerja pemerintahan saja tidak cukup. Dalam percaturan politik elektoral, elektabilitas tetaplah faktor kunci yang sangat diperhitungkan.

Elektabilitas dan Realitas Survei

Jamiluddin menekankan, Presiden Prabowo akan lebih mudah meyakinkan partai-partai koalisi untuk mendukung Teddy jika angka elektabilitasnya menunjukkan tren positif dalam berbagai survei. Data elektoral yang kuat dinilai mampu memperkecil resistensi dari internal koalisi.

“Dalam sistem politik kita, survei punya pengaruh besar. Partai cenderung realistis dan mempertimbangkan data elektoral sebelum menentukan sikap,” katanya.

Meski demikian, jalan menuju puncak elektabilitas tidaklah mudah. Peta persaingan menuju 2029 diprediksi akan diwarnai sejumlah figur kuat yang sudah memiliki basis dukungan dan pengenalan publik yang mapan.

Persaingan dengan Figur-figur Kuat

Nama Gibran Rakabuming Raka, dengan panggung politik nasionalnya sebagai wakil presiden, tetap menjadi kandidat yang diperhitungkan. Selain itu, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga diperkirakan akan menjadi figur kuat, didukung oleh pengalaman kabinet dan mesin politik partainya.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut berpotensi mengalami lonjakan elektabilitas jika kinerjanya di sektor ekonomi menunjukkan hasil yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

“Bukan hal mudah untuk menjadi yang teratas dalam survei. Figur-figur seperti Gibran, AHY, maupun Purbaya bisa saja mengalami peningkatan elektabilitas yang tajam menjelang 2028,” ungkap Jamiluddin.

Faktor Negosiasi dan Konfigurasi Koalisi

Di luar elektabilitas, faktor penentu lainnya adalah konfigurasi dukungan partai politik. Dalam sistem presidensial Indonesia, dukungan partai adalah syarat mutlak. Keputusan akhir tidak hanya bergantung pada preferensi presiden, tetapi juga hasil negosiasi politik yang rumit di antara partai-partai koalisi.

Meski memiliki pengaruh besar sebagai figur sentral, Prabowo tetap perlu mempertimbangkan aspirasi partai pendukung untuk menjaga soliditas koalisi. Dalam konteks ini, kemampuan Teddy membangun komunikasi politik yang baik dan memperluas jejaring dukungan di internal koalisi akan sangat vital.

Proses Panjang yang Masih Terbuka

Dengan waktu sekitar tiga tahun sebelum suhu politik benar-benar memanas, semua spekulasi masih sangat prematur. Banyak variabel yang dapat mengubah peta politik, mulai dari kondisi ekonomi, stabilitas nasional, hingga dinamika internal partai.

Jamiluddin menegaskan bahwa kemunculan sejumlah nama potensial ini adalah bagian dari proses politik yang wajar dan menunjukkan regenerasi kepemimpinan.

“Yang terpenting adalah bagaimana para kandidat potensial ini menunjukkan kapasitas, integritas, dan kinerja nyata. Pada akhirnya, publiklah yang akan menilai,” tuturnya.

Pada periode yang masih panjang ini, konsistensi kerja, kemampuan membangun komunikasi publik, dan strategi politik yang matang akan menjadi penentu akhir bagi setiap calon yang bercita-cita mendampingi Prabowo Subianto pada 2029.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar