Tantangan Utama: Tata Kelola dan Integrasi
Meski potensinya sangat besar, tantangan utama justru terletak pada tata kelola. Menurut pengamatannya, saat ini distribusi bantuan sosial keagamaan seringkali tumpang tindih dan tidak terkoordinasi. Akibatnya, terjadi inefisiensi dan bantuan tidak selalu tepat sasaran.
Oleh karena itu, ia menggagas perlunya sebuah sistem terintegrasi atau lembaga payung yang mampu mengoordinasikan seluruh dana umat. Konsepnya adalah memastikan bantuan diberikan berdasarkan data dan kebutuhan riil penerima.
“Kita harus tahu siapa yang perlu dibantu dengan ikan, siapa dengan pancing, siapa dengan perahu. Jangan sampai yang perlu ikan diberi perahu, atau sebaliknya. Bantuan harus berbasis data dan kebutuhan nyata, bukan sekadar proposal,” tegas Nasaruddin Umar.
Peluang Ekspor di Industri Halal
Selain sektor keuangan, peluang lain terletak pada industri halal, khususnya busana Muslim. Dengan reputasi yang baik di pasar Timur Tengah dan pangsa pasar global yang sangat luas, industri ini dinilai masih memiliki ruang ekspansi yang besar.
“Selama ini kita masih bermain di pasar domestik. Kalau kita serius ekspansi ke pasar internasional, potensinya bisa tiga kali lipat,” ujarnya.
Visi Menjadi Pusat Rujukan Global
Secara keseluruhan, Nasaruddin Umar optimistis Indonesia bisa naik peringkat dari sekadar pemain utama menjadi pusat rujukan ekonomi syariah dunia. Untuk mencapai itu, diperlukan konsolidasi, penguatan literasi, dan reformasi kurikulum pendidikan.
“Indonesia seharusnya menjadi playmaker dalam ekonomi syariah dunia,” ungkapnya.
Ia bahkan membayangkan suatu saat nanti posisi Indonesia bisa berbalik, dari yang selama ini belajar ke Timur Tengah, menjadi tujuan belajar bagi negara lain. “Ke depan bisa jadi mereka yang belajar ke Indonesia,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Dinkes Flores Timur Siapkan Tujuh Posko Kesehatan untuk Semana Santa
Mantan Danjen Kopassus Gugat Polda Metro Jaya Soal Penanganan Kasus Ijazah Jokowi
BAPERA Bantah Ketum Fahd El Fouz Terkait Dugaan Pengeroyokan
Rano Karno: Perputaran Ekonomi Jakarta Capai Rp48 Triliun di Akhir Tahun