Tak cuma itu. Potensi serupa juga terpantau di Nusa Tenggara Barat, beberapa wilayah Kalimantan, Sulawesi Utara, serta Maluku dan Maluku Utara. Jadi, sepertinya hampir seluruh pesisir Indonesia perlu memperhatikan imbauan ini.
Khusus untuk pesisir utara Jawa, periode kritisnya diperkirakan terjadi pada 12-19 Februari 2026. Kota-kota seperti Jakarta, Semarang, Demak, Pekalongan, dan Tegal termasuk yang berisiko. Sementara untuk wilayah Sumatera dan Kepulauan Riau, puncaknya kemungkinan baru terjadi di pertengahan hingga akhir bulan yang sama.
Namun begitu, Eko Prasetyo menegaskan bahwa dampak rob ini tidak akan seragam di semua tempat. “Semua itu bergantung pada kondisi topografi pesisir, pasang surut setempat, dan faktor meteorologis lainnya seperti angin dan tekanan udara,” katanya. Artinya, ada daerah yang mungkin hanya mengalami genangan minor, sementara yang lain bisa lebih parah.
Menyikapi hal ini, BMKG pun mengeluarkan imbauan resmi. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyesuaikan jadwal aktivitas mereka, terutama yang berkaitan dengan laut. Mereka juga didorong untuk rajin memantau informasi terbaru dari kanal komunikasi pemerintah setempat. Tujuannya jelas: agar dampak buruk dari pasang maksimum ini bisa diantisipasi sedini mungkin.
Artikel Terkait
Dinkes Flores Timur Siapkan Tujuh Posko Kesehatan untuk Semana Santa
Mantan Danjen Kopassus Gugat Polda Metro Jaya Soal Penanganan Kasus Ijazah Jokowi
BAPERA Bantah Ketum Fahd El Fouz Terkait Dugaan Pengeroyokan
Rano Karno: Perputaran Ekonomi Jakarta Capai Rp48 Triliun di Akhir Tahun