Pengacaranya, David Markus, punya jawaban yang justru mengonfirmasi kecurigaan itu. “Klien saya bersedia berbicara jujur, jika Presiden Trump memberinya pengampunan,” kata Markus. Ia berargumen proses peradilan yang menjerat Maxwell tidak adil, jadi wajar jika kliennya memilih diam selama proses banding masih berjalan.
Deposisi ini bukan muncul tiba-tiba. Semuanya berjalan setelah Departemen Kehakiman AS membuka akses terhadap jutaan dokumen internal kasus Epstein. Tumpukan berkas itu konon berisi foto-foto Trump bersama beberapa perempuan wajah mereka disamarkan plus sebuah catatan dengan tanda tangan sang mantan presiden.
Ini baru awal. Komite telah menjadwalkan lima deposisi lanjutan. Jadwal yang paling menyita perhatian adalah pemeriksaan terhadap mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton pada 26 Februari, dan sehari setelahnya, mantan Presiden Bill Clinton akan mendapat giliran.
Trump sendiri sudah berkali-kali membantah. Ia tegaskan tidak tahu apa-apa tentang kejahatan Epstein dan mengaku sudah memutus hubungan sejak awal 2000-an. Menariknya, tim hukum Maxwell justru mengklaim kliennya punya informasi yang bisa membersihkan nama Trump dan Bill Clinton dari skandal ini. Sebuah klaim yang tentu saja menambah rumit narasi yang sudah ruwet ini.
(Kelvin Yurcel)
Artikel Terkait
Trump Kritik Respons NATO dalam Konflik dengan Iran di Selat Hormuz
Prabowo Sambut Anwar Ibrahim di Istana, Bahas Geopolitik dalam Silaturahmi Lebaran
PM Anwar Ibrahim Tiba di Jakarta, Bahas Dampak Konflik Asia Barat dengan Prabowo
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis di Laga Perdana FIFA Series 2026