Di ruang sidang yang tegang, Ghislaine Maxwell memilih untuk diam. Ketika Komite Pengawasan dan Reformasi DPR AS mengajukan pertanyaan demi pertanyaan pada deposisi Senin lalu, rekan mendiang Jeffrey Epstein itu hanya bersandar pada hak Amandemen Kelima Konstitusi. Ia menolak bicara, tak mau memberikan kesaksian yang bisa memberatkan dirinya sendiri.
Sikapnya itu langsung memantik reaksi. Anggota komite dari kedua partai sama-sama menyayangkannya. James Comer, sang ketua, tak menyembunyikan kekecewaannya. “Deposisi ini gagal mengungkap informasi baru soal kejahatan Epstein atau kemungkinan keterlibatan orang lain,” ujarnya. Intinya, hasilnya nol besar.
Namun begitu, di balik kesunyian Maxwell, terselip spekulasi politik yang panas. Sejumlah anggota Demokrat menuding, kebungkamannya itu adalah strategi. Mereka menduga Maxwell sedang mengulur waktu, menunggu kemungkinan pengampunan dari Presiden Donald Trump.
Perwakilan Demokrat James Walkinshaw pun mendesak. Ia meminta Trump untuk secara terbuka menyatakan tak akan memberi pengampunan kepada wanita yang kini menjalani hukuman 20 tahun penjara itu.
Lalu, bagaimana tanggapan tim hukum Maxwell?
Pengacaranya, David Markus, punya jawaban yang justru mengonfirmasi kecurigaan itu. “Klien saya bersedia berbicara jujur, jika Presiden Trump memberinya pengampunan,” kata Markus. Ia berargumen proses peradilan yang menjerat Maxwell tidak adil, jadi wajar jika kliennya memilih diam selama proses banding masih berjalan.
Deposisi ini bukan muncul tiba-tiba. Semuanya berjalan setelah Departemen Kehakiman AS membuka akses terhadap jutaan dokumen internal kasus Epstein. Tumpukan berkas itu konon berisi foto-foto Trump bersama beberapa perempuan wajah mereka disamarkan plus sebuah catatan dengan tanda tangan sang mantan presiden.
Ini baru awal. Komite telah menjadwalkan lima deposisi lanjutan. Jadwal yang paling menyita perhatian adalah pemeriksaan terhadap mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton pada 26 Februari, dan sehari setelahnya, mantan Presiden Bill Clinton akan mendapat giliran.
Trump sendiri sudah berkali-kali membantah. Ia tegaskan tidak tahu apa-apa tentang kejahatan Epstein dan mengaku sudah memutus hubungan sejak awal 2000-an. Menariknya, tim hukum Maxwell justru mengklaim kliennya punya informasi yang bisa membersihkan nama Trump dan Bill Clinton dari skandal ini. Sebuah klaim yang tentu saja menambah rumit narasi yang sudah ruwet ini.
(Kelvin Yurcel)
Artikel Terkait
DKPP Pecat Tetap Ketua KPU Bogor Terbukti Terima Gratifikasi dan Upayakan Kemenangan Paslon
Menko Pangan Apresiasi Peran Polri dalam Penertiban Harga Gabah dan Dapur MBG
KPK Sita USD 50 Ribu di Pengadilan Depok Usai OTT Dugaan Suap Lahan
Jerman Pertanyakan Keamanan Cadangan Emas 1.236 Ton di AS di Bawah Pemerintahan Trump