Bandara I Gusti Ngurah Rai, pintu gerbang jutaan wisatawan ke Bali, mungkin segera menampilkan wajah baru. Di antara rak-rak duty free yang biasa dipenuhi minuman impor, Gubernur Bali Wayan Koster ingin melihat lebih banyak botol arak lokal. Ia secara khusus meminta pengelola bandara, PT Angkasa Pura I, untuk memperbanyak produk UMKM Bali itu.
Permintaannya langsung disampaikan saat peninjauan terminal internasional, Senin (9/2). “Kami minta kalau bisa diperbanyak,” kata Koster, “supaya di situ tidak hanya ada Whiskey, Brandy dan lainnya terutama yang di area duty free.”
Bagi Koster, ini bukan sekadar urusan dagang semata. Ada misi budaya dan ekonomi yang lebih dalam. Ia menegaskan komitmen Pemprov Bali untuk melestarikan arak sebagai warisan budaya sekaligus mengerek penghasilan perajin tradisional.
“Jadi, kita kelola dari hulu ke hilir,” ujarnya. Mulai dari petani, proses produksi, hingga pemasaran harus sesuai regulasi. Intinya, pelestarian arak Bali harus benar-benar berpihak pada perajin dan mampu menggerakkan perekonomian lokal.
Sebenarnya, arak Bali sudah dijual di beberapa gerai bandara dalam setahun terakhir. Namun begitu, jumlahnya masih sangat terbatas. Gubernur tidak hanya mendorong penambahan stok, tapi juga mengusulkan adanya ruang display khusus yang dikelola secara kolektif.
Artikel Terkait
Vinícius Júnior: Generasi Baru Brasil Sudah Siap Perjuangkan Piala Dunia 2026
Anggota DPR Usulkan WFH Diterapkan di Hari Rabu, Bukan Jumat
Anggota DPR Ingatkan Pemerintah Soal Risiko Long Weekend dari WFH Hari Jumat
Bea Cukai Malang Dampingi Perusahaan Lokal Percepat Perizinan Cukai