Jakarta - Rencana pemerintah menerapkan hari kerja dari rumah atau WFH lagi-lagi jadi perbincangan. Kali ini, anggota Komisi II DPR RI Romy Soekarno angkat bicara. Ia punya catatan penting: jangan sampai hari WFH itu malah jadi ajang libur panjang.
Menurut Romy, penempatan hari WFH harus dipertimbangkan matang, terutama terkait kebiasaan masyarakat. "Kita harus realistis," ujarnya kepada wartawan, Kamis (26/3/2026).
"Kalau WFH ditempatkan di hari yang mepet dengan akhir pekan, misalnya hari Jumat, yang ada malah memicu moral hazard. Orang cenderung akan menggabungkannya jadi long weekend," papar politisi PDIP itu.
Alasannya sederhana tapi masuk akal. Menurut sejumlah pengamat, hal semacam itu kerap terjadi. Romy khawatir, alih-alih mengurangi mobilitas, kebijakan justru berbuah sebaliknya.
"Ini berpotensi meningkatkan mobilitas, bukan menurunkannya," tegasnya.
Kalau sudah begitu, target penghematan BBM yang dicanangkan pemerintah bisa-bisa meleset jauh. Itu salah satu poin kekhawatirannya.
Di sisi lain, Romy juga menyoroti soal efektivitas kerja. Ia berpendapat, kerja jarak jauh seringkali kurang optimal. Interaksi yang minim di ruang fisik, menurut pengamatannya, bisa mengurangi dinamika kolaborasi dalam tim. Kerja jadi terasa kaku, kurang greget.
Maka itu, usulannya adalah menempatkan hari WFH di pertengahan minggu. Misalnya, Rabu. Dengan begitu, ritme kerja tidak terputus oleh "libur terselubung" dan tujuan kebijakan bisa lebih tercapai.
Pembahasan ini tampaknya masih akan panjang. Pemerintah diharapkan bisa mempertimbangkan berbagai masukan, termasuk efek samping yang tidak diinginkan.
Artikel Terkait
Polisi Ungkap Peran Empat Tersangka Narkoba di Hiburan Malam New Zone Medan, dari Penyedia hingga Pengawas Razia
Gereja Katolik di Mimika Hangus Terbakar akibat Lilin Tak Dipadamkan
PBNU Kecam Kekerasan Seksual di Padepokan Pekalongan, Desak Proses Hukum Tuntas
Banjir Bandang dan Longsor di Bone Bolango, Seorang Warga Hanyut ke Laut Sebelum Berhasil Diselamatkan