Yogyakarta, Selasa lalu – Pantai Ngobaran di Gunungkidul tak seperti hari-hari biasa. Suasana khidmat justru datang dari riuhnya ribuan umat Hindu yang memadati pesisir selatan itu. Mereka datang dari berbagai penjuru, tak cuma dari Gunungkidul, tapi juga dari Yogyakarta dan Klaten. Tujuannya satu: mengikuti prosesi sakral Melasti, yang menjadi pembuka dari rangkaian perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Matahari terik tak menyurutkan semangat. Iring-iringan panjang terlihat membawa jempana berhias. Di dalamnya, tersimpan perlengkapan upacara seperti pekuluh, pratima, dan pralingga yang dibawa dari 13 pura se-Kabupaten Gunungkidul. Semuanya menuju Pura Segara Wukir untuk disucikan. Ritual tahunan ini selalu punya daya tarik tersendiri, memadukan spiritualitas dengan panorama laut yang memukau.
Menurut Purwanto, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Gunungkidul, Melasti punya makna yang dalam. Digelar setiap Purnama Kesembilan, upacara ini intinya adalah pembersihan.
“Maknanya, kita melepas ‘mala’ atau segala kekotoran, baik dalam diri maupun di alam semesta,” jelasnya.
Ia menambahkan, ini adalah persiapan lahir batin sebelum masuk ke tahun baru.
“Dengan Melasti, umat dipersiapkan agar jauh dari hal-hal kotor menyambut Saka 1948. Ini baru awal. Puncaknya nanti pada 19 Maret, dengan Catur Brata Penyepian amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan,” ujar Purwanto, Rabu (4/3).
Artikel Terkait
Nagita Slavina Ungkap Raffi Ahmad Sering Ingatkannya untuk Tersenyum di Depan Publik
Andre Rosiade Bagikan 3.000 Sembako dan Janjikan Perbaikan Infrastruktur di Lima Puluh Kota
DPR Desak Pemerintah Tingkatkan Ketahanan Energi dan Pangan Jelang Eskalasi Timur Tengah
Gubernur DKI Umumkan Rencana Pembangunan Museum Peranakan Tionghoa di Glodok