Pasar saham Kamis kemarin (22/1) benar-benar berwarna merah untuk saham-saham konglomerasi. Padahal, beberapa di antaranya sempat digadang bakal masuk dalam indeks MSCI pada rebalancing Februari mendatang. Tekanan jual yang masif mendominasi, membuat papan harga sejumlah emiten besar itu anjlok.
Ambil contoh BUMI. Saham PT Bumi Resources Tbk itu terpangkas hampir 10 persen, berhenti di Rp348. Transaksinya pun panas, mencapai Rp4,12 triliun angka tertinggi di pasar hari itu. Tak sendirian, saham Grup Bakrie lain seperti DEWA juga ambles 9,52% ke Rp665, dengan nilai transaksi nyaris menyentuh Rp1 triliun.
Gelombang jual ini ternyata menular. Saham BNBR dan BRMS ikut terseret ke bawah. Bahkan, tekanan tak hanya berhenti di Grup Bakrie. Kelompok usaha Prajogo Pangestu pun ketiban sial. PT Petrosea (PTRO) misalnya, anjlok dalam-dalam, 12,93% ke level Rp10.775. Transaksinya juga gila-gilaan, tembus Rp1,52 triliun.
Kecuali BREN yang masih mampu naik tipis, hampir semua saham dalam lingkaran Prajogo melemah. Tekanan bahkan merembet ke saham-saham milik mitra bisnisnya, Happy Hapsoro. BUVA, MINA, RAJA, hingga RATU, kompak tercatat di zona merah.
Dampaknya? IHSG pun ikut keteteran. Indeks ditutup melemah 0,20% ke level 8.992,18.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Pengamat pasar modal Michael Yeoh punya pandangan. Menurutnya, ini erat kaitannya dengan sikap menunggu investor jelang pengumuman MSCI soal perubahan metodologi free float, yang rencananya diumumkan 30 Januari nanti.
“Ini mendekati tenggat keputusan MSCI. Melihat outflow yang terjadi, sepertinya ada aksi yang dilakukan investor dalam mengantisipasi pengumuman tersebut,” ujar Michael, Kamis kemarin.
Di tengah tekanan itu, Michael masih melihat celah. Ia menyebut BUMI punya support kuat di area 350-330, yang berpotensi jadi pijakan untuk rebound ke level 400. Sementara untuk DEWA, supportnya ada di kisaran 650-600.
Namun begitu, tidak semua sepakat. Founder WH Project, William Hartanto, punya analisis yang berbeda. Baginya, kecil kemungkinan pelemahan ini murni karena antisipasi MSCI.
“Kecil kemungkinannya sebagai antisipasi terhadap MSCI, karena beberapa dari saham-saham tersebut justru diestimasikan bisa masuk ke dalam indeksnya,” kata William.
William lebih melihat ini sebagai sinyal teknikal yang sudah mengkhawatirkan.
“Secara teknikal, beberapa saham seperti BUMI, RAJA, dan RATU itu sudah patah tren. Posisi harganya turun di bawah garis MA-20. Ini mengindikasikan aksi distribusi dalam skala besar,” jelasnya.
Dengan kondisi yang masih gamang ini, saran William sederhana: wait and see. Jangan terburu-buru ambil posisi.
Perdebatan soal kandidat MSCI sendiri memang masih hidup. Indo Premier dan Trimegah Sekuritas, misalnya, sama-sama menjagokan BUMI dan PTRO. Sementara CLSA Sekuritas punya prediksi lain, dengan memasukkan FILM sebagai kandidat kuat.
Semua kegaduhan ini berakar dari satu rencana MSCI. Pada Oktober lalu, lembaga itu mengumumkan sedang mengkaji penggunaan data kepemilikan dari KSEI sebagai acuan tambahan hitung free float. Tujuannya, dapat gambaran struktur kepemilikan yang lebih akurat.
Nah, rencana ini bikin khawatir. Soalnya, perubahan metodologi berpotensi menurunkan bobot saham-saham besar di indeks MSCI. Selama ini, BEI hanya wajibkan laporan pemegang saham di atas 5%. Data KSEI lebih detail, mencakup kepemilikan di bawah 5% sekaligus klasifikasinya.
MSCI mengusulkan, nanti free float dihitung berdasarkan nilai terendah dari dua pendekatan: metode lama mereka atau estimasi pakai data KSEI. Dalam skenario pakai data KSEI, saham script dan kepemilikan korporasi kemungkinan akan dikategorikan sebagai non-free float.
Masa masukan publik sudah ditutup akhir Desember lalu. Hasil akhirnya dijadwalkan diumumkan sebelum 30 Januari 2026. Kalau disetujui, perubahan baru akan berlaku efektif pada review indeks Mei mendatang.
Setiap keputusan investasi ada di tangan investor. Tulisan ini hanya menyajikan informasi pasar, bukan rekomendasi membeli atau menjual.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 6,61% dalam Sepekan, Investor Asing Catat Net Jual Rp2,95 Triliun
VKTR Revisi Target Rights Issue, Naikkan Jumlah Saham Baru Jadi 25 Juta
MNC Finance Gandeng BuPeri Foundation Optimalkan Pengelolaan Sampah dari Lingkungan Karyawan
IHSG Anjlok 3,4%, Saham BBCA Terjun ke Level Pandemi akibat Aksi Jual Asing Rp2 Triliun