Gelombang Jual Hantam Saham Konglomerasi, MSCI Jadi Kambing Hitam?

- Jumat, 23 Januari 2026 | 07:30 WIB
Gelombang Jual Hantam Saham Konglomerasi, MSCI Jadi Kambing Hitam?

William lebih melihat ini sebagai sinyal teknikal yang sudah mengkhawatirkan.

Dengan kondisi yang masih gamang ini, saran William sederhana: wait and see. Jangan terburu-buru ambil posisi.

Perdebatan soal kandidat MSCI sendiri memang masih hidup. Indo Premier dan Trimegah Sekuritas, misalnya, sama-sama menjagokan BUMI dan PTRO. Sementara CLSA Sekuritas punya prediksi lain, dengan memasukkan FILM sebagai kandidat kuat.

Semua kegaduhan ini berakar dari satu rencana MSCI. Pada Oktober lalu, lembaga itu mengumumkan sedang mengkaji penggunaan data kepemilikan dari KSEI sebagai acuan tambahan hitung free float. Tujuannya, dapat gambaran struktur kepemilikan yang lebih akurat.

Nah, rencana ini bikin khawatir. Soalnya, perubahan metodologi berpotensi menurunkan bobot saham-saham besar di indeks MSCI. Selama ini, BEI hanya wajibkan laporan pemegang saham di atas 5%. Data KSEI lebih detail, mencakup kepemilikan di bawah 5% sekaligus klasifikasinya.

MSCI mengusulkan, nanti free float dihitung berdasarkan nilai terendah dari dua pendekatan: metode lama mereka atau estimasi pakai data KSEI. Dalam skenario pakai data KSEI, saham script dan kepemilikan korporasi kemungkinan akan dikategorikan sebagai non-free float.

Masa masukan publik sudah ditutup akhir Desember lalu. Hasil akhirnya dijadwalkan diumumkan sebelum 30 Januari 2026. Kalau disetujui, perubahan baru akan berlaku efektif pada review indeks Mei mendatang.

Setiap keputusan investasi ada di tangan investor. Tulisan ini hanya menyajikan informasi pasar, bukan rekomendasi membeli atau menjual.


Halaman:

Komentar