MURIANETWORK.COM - Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menghadapi ancaman senjata tajam dari seorang warga saat memimpin operasi penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Teluk Pucung, Bekasi Utara, belum lama ini. Insiden yang terekam dalam sebuah video itu kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial, memicu perhatian publik. Kejadian ini bermula saat petugas Satpol PP akan membongkar sebuah kotak penyimpanan kelapa milik pedagang yang dianggap menghalangi jalan.
Ketegangan di Lokasi Penertiban
Operasi penertiban yang dipimpin langsung oleh Wali Kota bersama Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Kusumo Wahyu Bintoro, semula berjalan seperti biasa. Namun, situasi berubah ketika seorang pria berbaju merah muncul dan memprotes tindakan petugas yang hendak membongkar kotak besi penyimpanan kelapanya. Ketegangan pun tidak terhindarkan.
Setelah sempat beradu mulut dengan petugas, pria tersebut masuk ke dalam sebuah ruko dan kembali dengan membawa sebilah golok. Dengan senjata di tangan, ia mengancam petugas yang sebelumnya bersitegang dengannya, mendesak petugas tersebut mundur hingga mendekati posisi Wali Kota Tri Adhianto.
"Awas pak, awas pak wali, amankan itu (orangnya)," terdengar suara dari perekam video dalam rekaman itu.
Respons dan Penanganan Aparat
Menyaksikan ancaman yang terjadi, Tri Adhianto sempat menjauh untuk menghindari risiko. Kapolres Kusumo Wahyu Bintoro kemudian mengambil alih dengan mendekati dan memberikan pengertian kepada pria pembawa golok tersebut mengenai maksud dan dasar hukum operasi penertiban yang dilakukan Pemerintah Kota Bekasi. Tindakan persuasif ini berhasil meredakan situasi lebih lanjut.
Pernyataan Wali Kota Usai Insiden
Menanggapi video viral tersebut, Tri Adhianto menegaskan bahwa penertiban telah didahului oleh proses sosialisasi dan imbauan kepada para pedagang. Ia menekankan bahwa pendekatan persuasif tetap menjadi prioritas dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
"Tentu sudah ada imbauan sebelumnya petugas jadi kami minta untuk dapat melakukan secara persuasif," ucap Tri.
Lebih lanjut, Wali Kota menyatakan bahwa ancaman fisik seperti golok bukanlah hal yang paling dikhawatirkannya. Kekhawatiran yang lebih besar justru terletak pada pembiaran terhadap pelanggaran yang terjadi secara terus-menerus, yang dapat menumbuhkan persepsi keliru di masyarakat.
"Saya bukan khawatir kepada goloknya tetapi khawatir jika masyarakat sering melanggar peraturan dan ini akan menjadi kebiasaan. Lama-lama jadi pembiaran, akhirnya para pelanggar merasa dirinya paling benar," kata dia.
Menurut analisisnya, kemarahan yang meledak dari warga tersebut merupakan akumulasi dari pola pembiaran yang berlangsung dalam waktu lama. Ketika penindakan akhirnya dilakukan, akumulasi ketidakpuasan itu menemukan momentum untuk meledak.
"Nah kemarahan ini lah bentuk akumulasi pembiaran selama bertahun-tahun ketika nggak pernah ditindak," tuturnya.
Artikel Terkait
Video Viral Mayat dalam Karung di Tambora Ternyata Biawak, Polisi Beri Klarifikasi
MNC Group Luncurkan Program Baru di Empat Stasiun TV, Ajak Pemirsa Lakukan Penyesuaian Digital
Pembiayaan Emas BCA Syariah Melonjak 238% di Tengah Harga Emas yang Meroket
Pemerintah Siapkan Rusun Subsidi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Perkotaan