Pakistan Berlakukan Kerja 4 Hari dan Perpanjang Libur Sekolah Imbas Lonjakan Harga Minyak

- Selasa, 10 Maret 2026 | 09:15 WIB
Pakistan Berlakukan Kerja 4 Hari dan Perpanjang Libur Sekolah Imbas Lonjakan Harga Minyak

Harga minyak yang meroket lagi, kali ini gara-gara ketegangan di Teluk, memaksa Pakistan mengambil langkah darurat. Perdana Menteri Shehbaz Sharif baru saja mengumumkan sejumlah kebijakan penghematan bahan bakar yang bakal langsung menyentuh kehidupan sehari-hari warganya. Intinya, separuh pegawai pemerintah diminta kerja dari rumah dan libur sekolah bakal diperpanjang.

Menurut laporan, harga minyak dunia sudah tembus angka $100 per barel. Ini pertama kalinya sejak Rusia menginvasi Ukraina dua tahun silam. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan serangan balasan Iran yang menyasar kawasan penghasil minyak mentah. Buat Pakistan yang sangat bergantung pada impor dari Teluk, situasinya jadi genting.

Akibatnya, Jumat lalu pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM di SPBU sekitar 20 persen. Langsung saja, antrean kendaraan mengular di mana-mana, warga berusaha mengisi tangki sebelum harga semakin tak terjangkau.

Sharif mengaku ini adalah keputusan yang sulit. "Krisis energi adalah krisis baru," tegasnya dalam sebuah pertemuan.

Ia khawatir, kenaikan lebih lanjut akan menghantam penduduk yang sebagian besar hidupnya pas-pasan. Tapi, menurutnya, tindakan ini tak terhindarkan.

Rapat kabinet pada Senin kemarin akhirnya memutuskan sepaket langkah. Kantor pemerintah kecuali bank akan beralih ke sistem kerja empat hari dalam seminggu. Separuh stafnya harus WFH. Gaji pegawai pemerintah juga bakal dipotong, begitu pula tunjangan bahan bakar untuk kendaraan dinas. Ambulans dapat pengecualian, tapi untuk kendaraan lain, tunjangannya dipangkas 50% untuk dua bulan ke depan.

Tak cuma itu. Rapat juga setuju untuk melarang pembelian peralatan baru dan memangkas perjalanan dinas ke luar negeri. Kecuali, kata Sharif, perjalanan yang benar-benar penting untuk kemajuan negara. "Pertemuan daring akan diprioritaskan," tambahnya.

Di sisi lain, dunia pendidikan juga kena imbas. Libur sekolah akan diperpanjang. Setelah dua minggu, pembelajaran dialihkan ke sistem daring.

Pakistan ternyata tidak sendirian. Krisis ini juga melanda negara Asia Selatan lainnya. Bangladesh, yang 95% kebutuhan minyak dan gasnya diimpor, terpaksa memberlakukan penjatahan bahan bakar sejak Minggu. Antrean panjang pun terjadi, disusul ancaman kerusuhan yang bikin was-was. Mereka bahkan sampai membatalkan pertunjukan lampu untuk perayaan kemerdekaan dan Ramadan. Situasinya benar-benar tegang.

Jadi, begitulah keadaannya. Langkah-langkah penghematan yang drastis ini menunjukkan betapa rapuhnya negara-negara pengimpor energi saat gejolak geopolitik terjadi. Rakyat biasa, sekali lagi, yang harus menanggung bebannya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar