Harga minyak yang meroket lagi, kali ini gara-gara ketegangan di Teluk, memaksa Pakistan mengambil langkah darurat. Perdana Menteri Shehbaz Sharif baru saja mengumumkan sejumlah kebijakan penghematan bahan bakar yang bakal langsung menyentuh kehidupan sehari-hari warganya. Intinya, separuh pegawai pemerintah diminta kerja dari rumah dan libur sekolah bakal diperpanjang.
Menurut laporan, harga minyak dunia sudah tembus angka $100 per barel. Ini pertama kalinya sejak Rusia menginvasi Ukraina dua tahun silam. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan serangan balasan Iran yang menyasar kawasan penghasil minyak mentah. Buat Pakistan yang sangat bergantung pada impor dari Teluk, situasinya jadi genting.
Akibatnya, Jumat lalu pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM di SPBU sekitar 20 persen. Langsung saja, antrean kendaraan mengular di mana-mana, warga berusaha mengisi tangki sebelum harga semakin tak terjangkau.
Sharif mengaku ini adalah keputusan yang sulit. "Krisis energi adalah krisis baru," tegasnya dalam sebuah pertemuan.
Ia khawatir, kenaikan lebih lanjut akan menghantam penduduk yang sebagian besar hidupnya pas-pasan. Tapi, menurutnya, tindakan ini tak terhindarkan.
Artikel Terkait
Emir Kuwait Kecam Serangan Iran yang Tewaskan 12 Warga
Dua Disjoki Diamankan di Sunter Terkait Peredaran Sabu
Nasib Emil Audero di Cremonese Terancam Usai Klub Terlempar ke Zona Degradasi
Trump Ancam Iran dengan Kematian, Api, dan Amarah Jika Ganggu Selat Hormuz