Rentetan kebijakan yang dieksekusi Bank Indonesia bersama pemerintah dalam beberapa waktu terakhir dinilai berhasil meredam dampak spiral psikologis dari pelemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sinergi bauran moneter yang berani tersebut mendapat apresiasi positif karena dinilai mampu memanfaatkan celah dinamika global untuk memperkuat fundamental ekonomi domestik.
Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, memandang langkah agresif Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan secara paralel dengan optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai strategi yang tepat untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Menurutnya, bank sentral cerdik dalam memancing masuknya aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekaligus menyerap likuiditas guna menstabilkan pasar uang.
“Dari sisi strategi perdagangan jangka pendek untuk mencegah dampak spiral psikologis terus melemahnya rupiah, saya pikir kita harus punya kawan bersama. Langkah agresif BI patut kita apresiasi, termasuk celah yang dimanfaatkan terkait The Fed yang terus mendorong dolar AS melemah terhadap yuan,” ujar Yanuar dalam analisisnya.
Ia menambahkan bahwa optimisme pasar jangka pendek ini kian solid berkat respons rasional dari pemerintah di sektor riil. Kelenturan sikap pemerintah yang bersedia membuka ruang titik temu dengan pelaku pasar ekspor dan meredam ketegangan dagang, khususnya dengan China sebagai mitra pemesan komoditas terbesar Indonesia, turut diapresiasi.
Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui pembatalan rencana skema gross split di sektor pertambangan serta kepastian peran institusi Danantara yang ditegaskan tidak akan mengganggu model bisnis sektor swasta. Lembaga itu disebut akan fokus pada fungsi pengawasan kepatuhan harga atau transfer pricing.
Gerak cepat ini langsung direspons positif di lantai bursa melalui aksi beli bersih oleh investor domestik pada saham-saham sektor komoditas strategis. “Upaya jangka pendek BI juga didukung sinyal pemerintah yang mulai mencari titik win-win dengan pasar ekspor, khususnya merespons kerasnya China atas kebijakan di sektor tambang dan isu satu pintu ekspor Danantara,” kata Yanuar.
Di sisi lain, Yanuar memberikan nilai positif terhadap langkah berani pemerintah yang mulai rasional dalam menyusun postur anggaran belanja. Keputusan untuk melakukan efisiensi dan pemotongan pada program berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih dinilai sebagai langkah penyelamatan fiskal yang bijak di tengah ketatnya pasar surat utang global.
“Pemerintah menjadi rasional memotong program MBG dan KDMP saat sudah berdarah-darah dan sulitnya masuk ke pasar surat utang dengan tekanan persepsi fiskal serta naiknya yield global. Ini positif,” ujarnya.
Meski mengapresiasi kesuksesan strategi jangka pendek otoritas yang berhasil membalikkan arah kurva pergerakan rupiah dan IHSG ke zona hijau, Yanuar mengingatkan pemerintah tidak boleh terlena. Menurutnya, penguatan fundamental ekonomi jangka panjang harus segera menyasar pada perbaikan daya beli kelas menengah yang mulai tergerus akibat fenomena inflasi dorongan biaya.
Dengan demikian, Yanuar menekankan pentingnya bagi para pembuat kebijakan untuk mendengarkan aspirasi publik, termasuk pesan penyeimbang dari aksi demonstrasi mahasiswa. Pemerintah diharapkan mampu menjaga harapan generasi muda dengan tetap menjamin ketersediaan lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat sipil guna memastikan roda transformasi ekonomi berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Pemerintah Proyeksikan Harga Minyak Mentah Indonesia 2027 di Kisaran 70-95 Dolar AS per Barel
Pemerintah Pastikan Harga Pertalite dan LPG 3 Kg Tidak Naik di Tengah Fluktuasi Harga Minyak Dunia
Direktur Utama PT Maktour Kembali Mangkir dari Panggilan KPK, Klaim Kelelahan Usai Haji
Pertemuan Menkeu dan Kepala BGN Diagendakan Ulang, Isu Efisiensi Anggaran MBG Mengemuka