Indonesia diproyeksikan menghadapi lonjakan jumlah penduduk lanjut usia yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang, dengan angka mencapai 40 juta jiwa pada tahun 2030. Fenomena ini seiring dengan semakin banyaknya daerah yang memasuki fase penuaan penduduk atau aging population. Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan bahwa saat ini proporsi lansia di Indonesia telah mencapai sekitar 12 persen dari total populasi. Bahkan, sebanyak 16 provinsi tercatat telah memasuki fase tersebut dengan persentase lansia di atas 10 persen.
Perubahan struktur demografi ini menghadirkan tantangan besar, terutama di sektor kesehatan. Kelompok lansia menjadi salah satu segmen rentan yang memerlukan perhatian khusus karena risiko penyakit dan tingkat ketergantungan yang meningkat seiring bertambahnya usia. “Kita akan menunjukkan betapa besarnya tantangan sekaligus peluang yang kita hadapi. Karena berdasarkan data screening sekilas ditemukan 2,8 persen lansia mengalami ketergantungan sedang hingga total. Artinya perawatan jangka panjang bukan lagi isu masa depan. Ini adalah kebutuhan nyata hari ini,” kata Dante dalam sambutannya pada Puncak Hari Lanjut Usia di RS PON Profesor Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Dante, fenomena penuaan penduduk tidak semata-mata menjadi beban, melainkan juga peluang apabila dikelola secara tepat. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat sistem layanan kesehatan yang ramah terhadap kebutuhan lansia. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah transformasi 87 persen puskesmas di Indonesia menjadi Puskesmas Santun Lansia. Di Jakarta, hampir seluruh puskesmas juga telah bertransformasi menjadi Puskesmas Ramah Lansia yang didukung layanan terpadu rumah sakit.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong edukasi yang lebih luas bagi lansia, mencakup kesehatan fisik dan mental, pemanfaatan teknologi, literasi finansial, hingga pemberdayaan sosial. Tujuannya agar lansia tetap aktif dan produktif. “Namun, kita harus mengubah cara pandang kita. Lansia bukanlah beban, mereka adalah aset berharga bangsa yang kaya akan pengalaman, kearifan, serta menjadi teladan hidup bagi generasi,” ujar Dante.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menambahkan bahwa upaya promotif dan preventif terus diperkuat untuk menjaga kualitas hidup lansia. Salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis yang mendorong deteksi dini berbagai penyakit. Pada tahun lalu, sebanyak 7 juta lansia dari total 34 juta lansia di Indonesia telah mengikuti skrining kesehatan.
Imran menegaskan, masyarakat perlu mulai menjaga kesehatan sejak usia produktif, terutama saat memasuki usia 40 hingga 45 tahun. Menurutnya, kualitas kesehatan pada masa lanjut usia sangat ditentukan oleh pola hidup yang dijalani jauh sebelum seseorang memasuki fase tersebut. “Pesan kedua adalah bahwa kita perlu menjaga kesehatan kita untuk bisa lansia sehat itu jangan mulainya umur 60 tahun ya. Jadi justru kita harus melakukan atau menjaga kesehatan kita itu pada usia 40, 45,” katanya.
Artikel Terkait
LPSK Ajukan Tambahan Anggaran Rp262,43 Miliar untuk Perlindungan Saksi dan Korban pada 2027
Prabowo Terima Telepon Mahmoud Abbas, Bahas Dukungan Indonesia untuk Palestina
BGN Akan Ubah Skema Insentif Dapur Gizi, Tak Lagi Flat Rp6 Juta Per Hari
Polisi Selidiki Aksi Pencopetan di Jakarta Fair Kemayoran yang Viral di Medsos