Menyongsong periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, PT Pertamina (Persero) bersiap menambah pasokan BBM jenis Pertalite. Rencananya, tambahan stok yang disiapkan mencapai 1,4 juta kiloliter. Langkah ini diambil demi menjaga ketahanan energi saat momen liburan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengungkapkan bahwa kebutuhan BBM di dalam negeri selama ini tidak sepenuhnya bisa dipenuhi oleh produksi lokal. Itu sebabnya, impor diperlukan untuk menutupi kesenjangan tersebut.
Meski begitu, Roberth enggan merinci berapa persisnya volume impor yang akan dilakukan untuk menambah stok Pertalite. Yang jelas, menurutnya, langkah ini tidak akan membebani neraca dagang. Pasalnya, konsumsi Pertalite hingga saat ini masih di bawah kuota, sekitar 1-5 persen.
“Memang secara konsumsi BBM di Indonesia dengan kapasitas produksi kan memang tidak dalam satu garis yang seimbang, sehingga pasti itu dilakukan impor untuk pemenuhannya. Untuk terkait dengan impornya, ini nanti akan dilakukan itu secara bertahap tentunya,” jelasnya saat konferensi pers, Rabu (26/11).
Roberth juga menegaskan bahwa proses pengadaan BBM impor ini tetap mengikuti prosedur standar dan sesuai spesifikasi yang ditetapkan Kementerian ESDM. Jadi, dari segi kualitas, masyarakat tak perlu khawatir.
Di sisi lain, penambahan stok ini dinilai penting. Saat ini, ketahanan pasokan Pertalite baru berada di kisaran 17 hari operasi. Sementara untuk menghadapi Nataru, Pertamina ingin angka itu naik menjadi 21 hari.
“Kami masih melakukan negosiasi dan perencanaan untuk kemudian melaksanakan kegiatan impor dalam mengenai kebutuhan itu. Nah untuk berapa-berapanya tentunya pasti ini nanti akan di-update pada saat kemudian negosiasi itu sudah berjalan,” tegas Roberth.
Tak Hanya dari Satu Negara
Umumnya, Pertamina Patra Niaga melakukan negosiasi impor BBM secara business to business untuk memenuhi kebutuhan sepanjang tahun. Namun begitu, asal negara pemasoknya cukup beragam.
Salah satunya adalah Amerika Serikat. Berdasarkan kebijakan pemerintah, porsi impor BBM dari AS ini bisa mencapai sekitar 40 persen.
“Pasar impor kita kan berdasarkan kebijakan pemerintah sudah ada untuk menyerap yang dari AS. Di luar itu juga kalau AS kan setara 40 persen seperti kebijakan pemerintah, selebihnya itu juga dilakukan dengan supplier-supplier penyedia yang ada di lokasi lain,” ungkap Roberth.
Sementara itu, dari sisi lain perusahaan, VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron memberikan penjelasan tambahan. Menurutnya, Pertamina masih menunggu arahan lebih lanjut terkait penugasan impor migas dari AS, terutama seiring dengan proses negosiasi tarif impor resiprokal yang masih berlangsung.
“Kami juga tetap menunggu arahan dari pemerintah terkait dengan penugasan ini, kami perlu adanya dasar yang kuat dan kehati-hatian dalam pelaksanaan dan juga tujuan utamanya tentunya ini untuk mengamankan distribusi energi kepada masyarakat,” tuturnya.
Jadi, meski persiapan impor sudah digeber, langkah akhirnya masih menunggu kepastian dari pemerintah. Semuanya demi satu tujuan: menjaga pasokan energi tetap lancar saat libur panjang nanti.
Artikel Terkait
Pabrik Amonia Banggai Kembali Beroperasi Penuh Usai Pemeliharaan Terjadwal
BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen dan Beri Insentif Baru untuk Tarik Arus Modal Asing
SOFA Akuisisi 10 Persen Saham Perusahaan Pengelola Sampah Energi Milik Zhejiang Weiming
Jababeka Bagikan Dividen Rp42,31 Miliar, Setara Rp2 per Saham