Analis: Reli IHSG 6% Ditopang Domestik, Investor Asing Masih Keluar Rp3,3 Triliun

- Senin, 13 April 2026 | 09:20 WIB
Analis: Reli IHSG 6% Ditopang Domestik, Investor Asing Masih Keluar Rp3,3 Triliun

Pekan lalu, IHSG bangkit dengan cukup impresif. Indeks saham kita melonjak lebih dari 6 persen dalam rentang 6 hingga 10 April. Tapi, jangan dulu bertepuk tangan. Di balik angka hijau itu, ada aroma kehati-hatian yang kuat, terutama dari para investor asing.

Menurut Hari Rachmansyah, analis saham dari Indo Premier Sekuritas, reli ini tak lepas dari meredanya ketegangan di Timur Tengah.

"Ada kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran, plus Selat Hormuz yang dibuka kembali. Itu jadi katalis utama buat perbaikan sentimen di pasar global," jelasnya.

Namun begitu, partisipasi investor luar negeri ternyata masih setengah hati. Mereka justru mencatatkan net sell alias aliran dana keluar senilai Rp3,3 triliun di pasar reguler sepanjang pekan itu. Fakta ini mengindikasikan sesuatu: penguatan IHSG lebih banyak ditopang oleh uang dalam negeri dan rotasi dana ke saham-saham raksasa.

Dan memang, reli pekan lalu banyak digerakkan oleh saham-saham big caps. BREN, DSSA, dan TPIA, misalnya, melesat dan memberikan efek pengganda yang signifikan terhadap indeks. Kenaikan mereka seperti memicu semangat investor lokal, yang kemudian ikut mendorng saham-saham lainnya.

Secara garis besar, sentimen pasar memang bergeser ke arah 'risk-on'. Tapi bayang-bayang kehati-hatian investor asing masih jelas terlihat.

"Ke depan, tren ini akan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik global dan konsistensi aliran dana domestik," kata Hari dalam risetnya, Senin (13/4/2026).

Lalu, bagaimana prospek untuk pekan ini?

Hari mengingatkan para trader untuk menyimak baik-baik sentimen dari luar dan dalam negeri. Dari sisi global, negosiasi AS-Iran yang terbaru disebut-sebut gagal mencapai kesepakatan konkret. Ini tentu memperpanjang ketidakpastian.

"Tanpa kesepakatan, pasar mulai khawatir soal gangguan distribusi energi global. Selat Hormuz tetap jadi titik rawan dalam rantai pasok minyak dunia," tuturnya.

Kondisi ini berpotensi membuat harga energi tetap tinggi. Imbasnya? Laju penurunan inflasi global bisa terhambat, dan ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya jadi menyempit.

Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan The Fed juga berubah. Suasana jadi lebih 'hawkish' karena risiko inflasi dari sektor energi masih mengintai. Yield obligasi AS bisa tetap tinggi, dan ini jadi tekanan tambahan untuk aset berisiko seperti saham.

Dinamika ini mendorong investor global kembali bersikap 'risk-off' untuk jangka pendek. Mereka mungkin akan berputar ke aset safe haven seperti dolar AS. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, dan arah pasar sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan sinyal kebijakan moneter.

Sementara di dalam negeri, ada dua hal yang perlu dicermati: wacana penyesuaian harga BBM non-subsidi dan upaya stabilisasi Rupiah yang kini ada di kisaran 17.000 per dolar AS.

Penyesuaian BBM, meski untuk menjaga kesehatan fiskal, berisiko memicu tekanan inflasi jangka pendek. Daya beli masyarakat dan margin sektor konsumsi bisa terpengaruh.

Sedangkan pelemahan Rupiah mendorong otoritas menyiapkan berbagai langkah, mulai dari intervensi di pasar valas hingga optimalisasi instrumen moneter, untuk menjaga stabilitas.

Dengan semua faktor ini, pergerakan IHSG pekan ini diperkirakan cenderung mixed dan konsolidatif. Posisi indeks yang sudah rally tinggi mulai menunjukkan indikasi reversal jangka pendek.

Dari sektor, energi masih mungkin jadi motor penggerak, didukung harga komoditas yang kuat. Sektor transportasi laut juga menunjukkan prospek baik. Selain itu, saham-saham konglomerasi yang mulai berbalik arah secara teknikal bisa membuka peluang trading jangka pendek.

Dalam kondisi seperti ini, saran Hari adalah tetap selektif. Gunakan pendekatan trading-oriented, manfaatkan momentum di sektor kuat, tapi jangan lupa disiplin mengelola risiko. Volatilitas masih tinggi dan sentimen bisa berubah dengan cepat.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar