“Itu yang akan kita coba evaluasi agar tradisi kita menuju Piala Dunia bisa tercapai,” tambah Nova.
Lalu, soal kekalahan tujuh gol tanpa balas itu. Banyak yang menyangka chemistry tim amburadul. Nova membantah. Mayoritas pemain ini, katanya, sudah akrab. Mereka biasa bermain bersama di kompetisi Elite Pro Academy U-18 dengan nama Garuda United U-18. Rekor mereka bahkan ciamik: puncak klasemen dengan 55 poin dari 22 laga, 18 menang, 1 seri, 3 kalah. Mereka mencetak 62 gol dan cuma kebobolan 15 kali.
Tapi Nova mengakui, level tekanan berbeda.
“Mereka sudah bekerja bersama selama lima bulan. Dan mereka tampil di EPA, tapi memang itu yang saya sampaikan di awal kemarin adalah bagaimana secara intensitas pertandingan, secara tekanan, pasti berbeda,” jelasnya.
Jadi, intinya bukan soal keakraban. Melainkan pengalaman menghadapi tekanan pertandingan internasional yang lebih keras. Itulah yang kini jadi bahan pertimbangan utama: apakah perlu darah baru dari diaspora, atau cukup mengandalkan fondasi yang sudah ada dan mengasahnya lebih tajam lagi. Waktunya masih ada, tapi tidak panjang.
Artikel Terkait
Gubernur Bali Desak Optimalisasi Aplikasi dan Pendataan PMI Krama Bali
Mulan Jameela Bantah Tudingan Hina Profesi Guru, Sebut Berita Bohong
Arab Saudi Apresiasi Resolusi Dewan HAM PBB yang Kutuk Serangan Iran
Serangan Udara AS-Israel Tewaskan Dua Remaja di Iran, Dampak Merambah ke Abu Dhabi