"Pemerintah perlu segera melipatgandakan jumlah personel Polhut dan memperkuat pengawasan intensif di kawasan konservasi maupun konsesi rawan konflik dan perburuan liar," papar Daniel Johan.
"Kita akan bahas secara khusus tindak lanjut kasus ini, mengevaluasi sistem pengawasan, serta memastikan langkah konkret agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang," sambungnya.
Kondisi Bangkai yang Mengenaskan
Sebelum pernyataan Daniel Johan, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan telah mengonfirmasi bahwa kematian gajah tersebut bukanlah insiden alamiah. Saat memberikan kuliah umum di Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru, Jumat (6/2), ia menyatakan komitmen untuk mengusut tuntas.
"Gajah liar itu tewasnya dibunuh secara sengaja. Ini ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab," ungkap Irjen Herry Heryawan.
Temuan di lapangan yang diungkapkan oleh ahli dari BKSDA Riau semakin memperkuat dugaan pembunuhan dengan sengaja. drh. Rini Deswita, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli BKSDA Riau, menjelaskan adanya bukti fisik yang mengerikan pada bangkai gajah jantan itu.
"Posisi serpihan proyektil di bagian belakang tengkorak kepala. Bersarang di tengkorak," jelas Rini Deswita saat dihubungi wartawan, Jumat (6/2).
Gajah yang ditemukan tewas pada Senin (2/2) itu memang berada dalam kondisi yang memilukan. Ciri-ciri yang lazim terlihat pada perburuan gading pun tampak jelas.
"Sebagian kepala dari dahi, mata, dan belalainya hilang," tuturnya mendeskripsikan keadaan bangkai.
Tak hanya itu, bagian tubuh lain yang kerap menjadi incaran pemburu juga raib. "Gadingnya juga hilang," tambahnya.
Artikel Terkait
TMII Siapkan Pawai Budaya hingga Tari Kecak untuk Ramaikan Libur Lebaran 2026
Penertiban Dishub DKI Kosongkan Parkir Liar di Depan IRTI Monas
Kapolri Imbau Pemudik Manfaatkan Opsi WFA untuk Urai Puncak Arus Balik
Beckham Putra Tunda Mudik, Fokus Persiapan FIFA Series Bersama Timnas Indonesia