“Diperkirakan dalam BoP nanti, RI akan bertarung konsepsi dengan AS, tanpa beban dan mengandalkan idealisme dan pengalaman diplomasi di PBB, OKI, dan Liga Arab, serta doa tulus masyarakat Palestina yang masa depannya terwakili,” ungkapnya.
Keanggotaan Tidak Tetap Sebagai Bentuk Kehati-hatian
Lebih lanjut, Teuku justru mendukung sifat keanggotaan Indonesia yang tidak permanen dalam dewan tersebut. Pendirian ini dinilai sebagai bentuk kehati-hatian dan prinsip yang memungkinkan Indonesia tetap menjaga kedaulatan politik luar negerinya.
Dia menegaskan, “Di dalam BoP nantinya, RI bisa menarik diri, sekiranya badan ini berperilaku menyimpang dan berseberangan dengan idealisme RI.”
Pernyataan ini menggarisbawahi pendekatan Indonesia yang tetap mengutamakan prinsip dan kepentingan nasional, meski terlibat dalam inisiatif perdamaian yang digagas kekuatan besar dunia. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari diplomasi yang luwes namun berintegritas, menjaga reputasi Indonesia sebagai pihak yang aktif dan independen dalam percaturan global.
Artikel Terkait
Presiden Iran Tegaskan Jamin Keamanan Kapal di Selat Hormuz, Kecuali Milik AS dan Israel
Jenazah Pemilik Warung Remang-remang Ditemukan Membusuk di Subang
Gus Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK Usai Status Tahanan Rumah Dicabut
MRT Jakarta Tawarkan Tarif Spesial Rp243 di Hari Ulang Tahun ke-7