“Diperkirakan dalam BoP nanti, RI akan bertarung konsepsi dengan AS, tanpa beban dan mengandalkan idealisme dan pengalaman diplomasi di PBB, OKI, dan Liga Arab, serta doa tulus masyarakat Palestina yang masa depannya terwakili,” ungkapnya.
Keanggotaan Tidak Tetap Sebagai Bentuk Kehati-hatian
Lebih lanjut, Teuku justru mendukung sifat keanggotaan Indonesia yang tidak permanen dalam dewan tersebut. Pendirian ini dinilai sebagai bentuk kehati-hatian dan prinsip yang memungkinkan Indonesia tetap menjaga kedaulatan politik luar negerinya.
Dia menegaskan, “Di dalam BoP nantinya, RI bisa menarik diri, sekiranya badan ini berperilaku menyimpang dan berseberangan dengan idealisme RI.”
Pernyataan ini menggarisbawahi pendekatan Indonesia yang tetap mengutamakan prinsip dan kepentingan nasional, meski terlibat dalam inisiatif perdamaian yang digagas kekuatan besar dunia. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari diplomasi yang luwes namun berintegritas, menjaga reputasi Indonesia sebagai pihak yang aktif dan independen dalam percaturan global.
Artikel Terkait
Penjual Tikar di Ragunan Keluhkan Sepinya Pengunjung Saat Lebaran
Pembunuhan Georgi Markov: Misteri Payung Beracun Era Perang Dingin yang Tak Terpecahkan
Mantan Menhan AS Kritik Kebijakan Iran Trump Sebabkan Krisis Energi Global
Polisi Terapkan Sistem Satu Arah di Puncak Bogor, Arus Kendaraan Turun 25%