Di depan gerbang Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, Nenek Ameh duduk menunggu di antara tumpukan tikar plastiknya. Sudah empat tahun lebih, sejak 2020, perempuan 60 tahun ini setia berjualan di tempat yang sama. Bukan pedagang musiman, tapi ini adalah pencaharian utamanya. Namun tahun ini, suasana terasa berbeda. Menurutnya, jumlah pembeli jauh menurun.
“Lebaran ini agak sepi,” ujarnya. Suaranya lirih terdengar di antara lalu lalang kendaraan.
“Biasanya satu ikat isi 50 lembar habis. Sekarang cuma 20 atau 15 lembar saja yang laku. Enggak kayak tahun dulu, ramai sekali.”
Selembar tikarnya dihargai sepuluh ribu rupiah. Dulu, di awal-awal dia berjualan, omzetnya bisa mencapai Rp 1,2 juta hanya dalam empat hari. Sekarang? Penghasilan kotor yang dibawa pulang dalam sehari hanya berkisar antara seratus lima puluh hingga dua ratus ribu rupiah saja. Selisih yang sangat jauh.
Alasan memilih berjualan tikar punya cerita sendiri. Ameh bercerita, ini dilakukan karena suaminya sudah pensiun. Dulunya suaminya bekerja sebagai PJLP, namun karena aturan usia, tak bisa lagi bekerja.
“Kan dia di PJLP, sudah enggak bisa, umurnya sudah 60, sudah enggak boleh kerja lagi. Sudah, menganggur bapaknya di rumah,” tuturnya.
Artikel Terkait
TMII Siapkan Pawai Budaya hingga Tari Kecak untuk Ramaikan Libur Lebaran 2026
MAKI Kirim Piagam Satir ke KPK, Protes Pengalihan Status Tahanan Yaqut
Penertiban Dishub DKI Kosongkan Parkir Liar di Depan IRTI Monas
Kapolri Imbau Pemudik Manfaatkan Opsi WFA untuk Urai Puncak Arus Balik