Penjual Tikar di Ragunan Keluhkan Sepinya Pengunjung Saat Lebaran

- Selasa, 24 Maret 2026 | 12:45 WIB
Penjual Tikar di Ragunan Keluhkan Sepinya Pengunjung Saat Lebaran

Di depan gerbang Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, Nenek Ameh duduk menunggu di antara tumpukan tikar plastiknya. Sudah empat tahun lebih, sejak 2020, perempuan 60 tahun ini setia berjualan di tempat yang sama. Bukan pedagang musiman, tapi ini adalah pencaharian utamanya. Namun tahun ini, suasana terasa berbeda. Menurutnya, jumlah pembeli jauh menurun.

“Lebaran ini agak sepi,” ujarnya. Suaranya lirih terdengar di antara lalu lalang kendaraan.

“Biasanya satu ikat isi 50 lembar habis. Sekarang cuma 20 atau 15 lembar saja yang laku. Enggak kayak tahun dulu, ramai sekali.”

Selembar tikarnya dihargai sepuluh ribu rupiah. Dulu, di awal-awal dia berjualan, omzetnya bisa mencapai Rp 1,2 juta hanya dalam empat hari. Sekarang? Penghasilan kotor yang dibawa pulang dalam sehari hanya berkisar antara seratus lima puluh hingga dua ratus ribu rupiah saja. Selisih yang sangat jauh.

Alasan memilih berjualan tikar punya cerita sendiri. Ameh bercerita, ini dilakukan karena suaminya sudah pensiun. Dulunya suaminya bekerja sebagai PJLP, namun karena aturan usia, tak bisa lagi bekerja.

“Kan dia di PJLP, sudah enggak bisa, umurnya sudah 60, sudah enggak boleh kerja lagi. Sudah, menganggur bapaknya di rumah,” tuturnya.

“Saya jual tikar ya karena itu. Pencaharianlah. Lah iya, bapaknya enggak kerja, gimana? Kita ikhlas jalaninnya.”

Hasil dari berjualan itulah yang kini menopang kebutuhan sehari-hari mereka berdua. Semua dijalani dengan rasa ikhlas, meski kadang terasa berat.

Lalu, kenapa bisa sepi? Nenek Ameh punya dugaan. Menurut pengamatannya, banyak warga yang memilih mudik atau pulang kampung tahun ini. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana orang lebih memilih jalan-jalan di sekitar kota, termasuk ke Ragunan.

“Memang lagi sepi, rezeki nggak ketukar, sudah diatur Tuhan,” ucap Ameh dengan sikap pasrah.

“Pada pulang kampung semua, pengunjungnya. Kalau tahun kemarin kan banyak yang jalan-jalan, di sini enggak banyak.”

Di sisi lain, dia hanya bisa menunggu dan berharap. Menunggu pengunjung datang, dan berharap rezeki di hari-hari mendatang bisa sedikit lebih baik. Sambil tetap duduk setia di depan gerbang kebun binatang, menjajakan tikar seharga sepuluh ribu.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar