"Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, kita menghadapi dunia tanpa batasan yang mengikat pada persenjataan nuklir strategis Federasi Rusia dan Amerika Serikat," ungkap Guterres dalam pernyataannya.
Ia menegaskan bahwa perjanjian seperti New START telah berkontribusi besar pada keamanan kolektif. "Pembubaran pencapaian selama beberapa dekade ini terjadi pada waktu yang paling buruk -- risiko penggunaan senjata nuklir berada pada tingkat tertinggi dalam beberapa dekade," lanjutnya.
Di akhir pernyataannya, Guterres mendesak kedua negara adidaya itu untuk segera mengambil langkah diplomatik. Ia menyerukan agar Moskow dan Washington "untuk segera kembali ke meja perundingan dan menyepakati kerangka kerja pengganti".
Masa Depan yang Suram dan Ancaman Perlombaan Senjata
Tanpa kerangka hukum yang membatasi, secara teknis Rusia dan Amerika Serikat kini bebas untuk memperluas atau memodernisasi arsenal nuklir mereka tanpa batas numerik yang jelas. Situasi inilah yang memunculkan kekhawatiran akan dimulainya kembali perlombaan senjata nuklir, sebuah skenario yang telah lama dihindari komunitas internasional.
Para analis mengamati bahwa vakum perjanjian ini muncul dalam konteks hubungan bilateral yang sangat dingin, menyulitkan pembicaraan pengganti. Ketiadaan dialog strategis, ditambah dengan hilangnya mekanisme transparansi inspeksi, menciptakan kondisi yang berpotensi meningkatkan salah tafsir dan ketidakstabilan strategis di kancah global.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, 285 Ribu Kendaraan Diproyeksi Masuk Jabodetabek
Arus Mudik Lebaran 2026 Melonjak 130% di Gerbang Tol Cikampek Utama
Plt Sekretaris DPRD Blora Akui Gunakan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz dan Serang Israel Balas Ultimatum Trump