BNPB Akui Modifikasi Cuaca di Puncak Musim Hujan: Seperti Melawan Kodrat Alam

- Selasa, 30 Desember 2025 | 22:06 WIB
BNPB Akui Modifikasi Cuaca di Puncak Musim Hujan: Seperti Melawan Kodrat Alam

Upaya mencegah banjir di Sumatera dan Aceh dengan mengendalikan hujan lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) disebut BNPB sebagai langkah yang agak "menentang alam". Ya, terdengar ekstrem, tapi menurut mereka, itu justru diperlukan sekarang.

Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, mengakui hal ini terasa tidak lazim. Pasalnya, Indonesia sedang berada di puncak musim hujan. "Logikanya, pada masa seperti ini kita justru berusaha menghilangkan hujan. Sedikit banyak, itu seperti melawan kodrat alam," ujarnya dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa lalu.

Namun begitu, pilihan lain tampaknya lebih berat.

"Ini harus kita lakukan," tegas Abdul. Alasannya sederhana: risiko banjir sudah di depan mata. "Coba bayangkan, kalau ada satu daerah saja yang terlewat dari jangkauan operasi kita, tiga kabupaten di Aceh Bireuen, Pidie, dan Aceh Tengah bisa langsung kebanjiran lagi. Sungai-sungai di sana sudah di ambang meluap."

Memang, operasi semacam ini bukan perkara murah. Biayanya besar. Tapi Abdul berargumen, itu adalah harga yang harus dibayar sementara, sampai kondisi lingkungan dirasa lebih aman. "Kita harus terus lakukan ini dulu. Sampai nanti titik-titik rawan, seperti daerah yang dangkal atau jembatan yang penuh sampah, sudah benar-benar kita bersihkan dan pastikan lancar," jelasnya.

Baru setelah itu, menurutnya, intensitas modifikasi cuaca bisa dikurangi secara bertahap.

Di sisi lain, Abdul juga menyoroti akar masalah yang sebenarnya. Banjir belakangan ini, katanya, bukan semata-mata soal cuaca ekstrem. Bahkan hujan dengan intensitas biasa saja sudah cukup untuk menenggelamkan kawasan tertentu. "Ini soal daya tampung lingkungan yang sudah sangat terbatas," ungkapnya. Saluran dan sungai tak lagi mampu menampung luapan air, sekalipun curah hujannya tergolong sedang.

"Jadi, yang kita coba lakukan ini memang seperti siklus yang paradoks. Di puncak musim hujan, kita justru berupaya agar hujan tidak turun," tambahnya, mengulang sentilan "menentang alam" tadi.

Menariknya, upaya ini disebutnya membuahkan hasil. Dalam catatan BNPB, selama lebih dari sebulan terakhir di wilayah operasi, hari tanpa hujan justru lebih dominan ketimbang hari hujan. "Dalam 32-33 hari ini, proporsinya jelas. Hari kering jauh lebih banyak," tutur Abdul.

Karena itu, operasi modifikasi cuaca dipastikan akan terus berjalan. Targetnya? Sampai sistem drainase utama di wilayah rawan banjir dinilai sanggup menampung debit air dalam kondisi normal puncak hujan. "Kita akan optimalkan terus. Paling tidak, sampai kita yakin saluran-saluran primer itu sudah siap," pungkasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar