Kalau ngomongin kinerja saham di tahun 2025, nama Happy Hapsoro pasti nggak bisa dilewatkan. Pengusaha ini punya sejumlah perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia, dengan bisnis utamanya berkutat di sektor perhotelan, pariwisata, dan energi. Nah, dari sekian banyak saham miliknya, ada satu yang performanya benar-benar luar biasa.
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) jadi bintang paling terang. Saham pengelola jaringan hotel Alila ini melesat fantastis, dengan pertumbuhan harga mencapai 2.718 persen sepanjang tahun lalu. Bayangkan, awal 2025 harganya masih nangkring di Rp49 per saham. Baru pada akhir Juli saham ini keluar dari zona 'kucing-kucingan' di bawah Rp100, lalu terus meroket tanpa ampun hingga akhir tahun.
Puncaknya terjadi pada 11 Desember 2025, di mana BUVA menyentuh harga Rp1.800 per saham. Pada momen itu, pertumbuhannya bahkan tembus lebih dari 3.500 persen. Kenaikan gila-gilaan ini didukung oleh rights issue tahap I yang berhasil mengumpulkan dana segar Rp603 miliar. Dana itu dipakai buat bayar sisa akuisisi mayoritas saham PT Bukit Permai Properti, pengembangan lahan di Pecatu, dan penyertaan modal anak usaha.
Di perdagangan pertama tahun 2026, tepatnya Jumat 2 Januari, BUVA masih bertengger di kisaran Rp1.460 per saham. Dengan harga itu, valuasi pasar emiten ini sudah menembus Rp35,94 triliun. Angka yang cukup gila untuk sebuah saham yang setahun lalu harganya belum seberapa.
Di sisi lain, ada juga saham lain milik Hapsoro yang kinerjanya cukup moncer. PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) menempati posisi kedua dengan pertumbuhan 704,89 persen. Dari harga pembukaan Rp47 di awal tahun, saham properti dan perhotelan ini ditutup di Rp382 pada akhir 2025. Bahkan, pada 5 Desember, MINA sempat nyentuh harga puncak Rp488 per saham. Perusahaan ini punya land bank 4 hektare di Sanur, yang jadi salah satu aset berharganya.
Lalu, bagaimana dengan sektor energi? PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) jawabannya. Saham ini catat pertumbuhan 586,41 persen sepanjang tahun lalu, ditutup di harga Rp9.850. Padahal, RATU baru saja IPO pada 8 Januari 2026 dengan harga penawaran Rp1.150 dan berhasil kumpulkan dana Rp624 miliar. Harga tertingginya, Rp12.125, tercapai pada 27 November.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Soroti Syarat Khusus untuk Calon Bos BEI Baru
Menteri Keuangan Purbaya Desak BNPB: Dana Rp 1,51 Triliun untuk Sumatera Jangan Sampai Hangus
Gempa Finansial Rp 400 Triliun: OJK Turun Tangan Atasi Dampak Banjir Aceh-Sumut-Sumbar
Saham Unggulan Prajogo Pangestu: Satu Emiten Melonjak 552% Sepanjang 2025