Di tengah keraguan sejumlah lembaga besar, S&P Dow Jones Indices (DJI) justru memilih untuk tetap melanjutkan rencananya. Mereka akan melakukan penyesuaian kuartalan portofolio indeks untuk pasar Indonesia pada Maret mendatang. Ini adalah langkah yang cukup mengejutkan.
Menurut laporan Business Times, Senin (16/2/2026), pihak S&P mengaku terus memantau perkembangan, termasuk pedoman baru dari BEI. Namun begitu, rebalance Maret 2026 itu akan tetap dijalankan. Prosedurnya mengikuti metodologi standar yang berlaku saat ini, begitu penjelasan mereka.
Keputusan ini jelas membuat S&P tampil beda. Dua pesaing utamanya, MSCI dan FTSE Russell, justru memilih untuk menunda dan meningkatkan pengawasan. Kekhawatiran mereka sama: soal transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Isunya, ketidakjelasan ini bisa membuat porsi free float jumlah saham yang benar-benar bisa diperdagangkan publik terlihat membengkak dari angka sebenarnya.
Situasinya memang sedang tidak mudah. Regulator kita sedang berusaha keras memulihkan kredibilitas pasar. Sentimen investor pun lagi lesu, terbebani ancaman penurunan peringkat utang negara. Belum lagi peringatan keras dari MSCI soal risiko degradasi status Indonesia ke frontier market. Tekanannya nyata.
Artikel Terkait
OJK, BEI, dan KSEI Rampungkan Empat Agenda Kunci Perkuat Transparansi Pasar Modal
IHSG Turun 0,99%, Nilai Transaksi Anjlok 36,69% Pekan Lalu
Pemprov DKI Potong BPHTB 50% untuk Pembeli Rumah Pertama di Bawah Rp500 Juta
Laba Bersih Trisula International Melonjak 33% pada 2025 Didorong Ekspor