Rumah di Sleman Dilanda Api Misterius 73 Kali dalam Sepuluh Hari, Peneliti UGM Turun Tangan

- Senin, 01 Juni 2026 | 18:35 WIB
Rumah di Sleman Dilanda Api Misterius 73 Kali dalam Sepuluh Hari, Peneliti UGM Turun Tangan

Sebuah rumah di Dusun Kasuran Mriyan X, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dilanda fenomena misterius dengan api muncul sebanyak 73 kali dalam kurun waktu sepuluh hari. Peristiwa yang pertama kali terjadi pada Sabtu, 23 Mei lalu itu terus berulang secara acak hingga Senin, 1 Juni, sekitar pukul 12.19 WIB siang.

Mutfiana, pemilik rumah, menuturkan bahwa kejadian terbaru membuat geger penghuni rumah karena baju yang tengah tergantung di kamar tiba-tiba terbakar tanpa sebab yang jelas. Hingga saat ini, total titik api yang muncul telah mencapai 65 lokasi berbeda di dalam rumahnya.

“Sama yang ini tadi berarti totalnya 73 kali. Di sekitar 65 titik,” ujar Fia, sapaan akrab Mutfiana, saat ditemui wartawan di kediamannya, Senin (1/6).

Menurut penuturannya, pada hari yang sama saat kebakaran terakhir terjadi, tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah melakukan pemeriksaan di lokasi. Ironisnya, api kembali muncul saat para peneliti masih berada di tempat kejadian.

“Memang terjadi dan ruangan itu sebenarnya kosong waktu tadi, waktu terjadinya api. Ibu masuk baru kelihatan nih apinya udah gede,” jelasnya.

Sejak awal kemunculan, frekuensi api tergolong tinggi. Dalam sehari, rata-rata api muncul sebanyak tujuh hingga sembilan kali. Sebagian besar titik api berada di area terbuka, sementara kamar tidur baru dua kali mengalami kebakaran.

“Sehari 7, 8, 9 (kali). Kamar itu kebakaran baru dua kali,” ujarnya.

Akibat rentetan peristiwa ini, sejumlah barang milik keluarga telah rusak terbakar. Benda-benda yang mudah terbakar seperti kain, kardus, dan pakaian menjadi sasaran utama api.

“Udah banyak (yang terbakar). Iya, kain-kain. Kain, kardus, ya yang mudah terbakar lah,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti munculnya api masih menjadi teka-teki. Sejumlah pakar dari UGM dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) telah turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan ilmiah. Menurut Mutfiana, berbagai penelitian dari akademisi setidaknya diharapkan mampu memberikan penjelasan rasional terhadap peristiwa yang terus menghantui keluarganya itu.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar