Dedi Mulyadi Buka Suara soal Bantuan yang Dinilai Pilih Kasih

- Jumat, 31 Juli 2026 | 10:15 WIB
Dedi Mulyadi Buka Suara soal Bantuan yang Dinilai Pilih Kasih

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya buka suara setelah langkahnya memberikan bantuan kepada dua keluarga korban tragedi berbeda menuai sorotan warganet. Banyak yang mempertanyakan mengapa nominal yang diberikan tidak sama, bahkan menudingnya pilih kasih.

Dedi memberikan deposit sebesar Rp50 juta kepada anak terduga pelaku pencurian di Bali yang tewas dikeroyok massa. Sementara untuk keluarga satpam yang tewas terbunuh di Waduk Jatiluhur, ia menyerahkan bantuan tunai Rp25 juta. Perbedaan ini memicu kekecewaan dan pertanyaan di media sosial.

Menanggapi hal itu, Dedi menjelaskan bahwa ada pertimbangan matang di balik angka Rp25 juta untuk keluarga almarhum Sumarna. Ia menyebut sebagian dana dialokasikan untuk menyelesaikan kewajiban almarhum kepada pihak lain, sehingga tidak menjadi beban keluarga yang ditinggalkan.

"Waktu itu saya tidak menyerahkan uang berbeda dengan yang di Bali karena ada beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama bahwa saya paham almarhum itu ada beberapa kewajiban yang harus diselesaikan pada pihak lain sehingga saya memilih untuk menyelesaikan kewajiban pada pihak lain dibanding menyerahkan uang tunai ke keluarga korban," beber Dedi.

Selain itu, ia juga mengaku fokus pada keberlangsungan hidup anak-anak almarhum dalam jangka panjang. Bantuan tersebut diarahkan untuk pendidikan dan masa depan mereka, bukan sekadar memberi uang tunai besar di awal.

"Kedua, saya berfokus untuk pendidikan anaknya ke depan. Yang besar itu berfokus diselesaikan sekolah SMK dan dibantu untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan di sekitar rumah sehingga bisa menjamin kehidupan ibu dan adiknya," ungkapnya.

"Kedua, adik kecil yang masih sekolah SD itu dijadikan anak asuh saya untuk menempuh pendidikan hingga dewasa nanti sesuai apa yang diharapkan," lanjutnya.

Alasan krusial lainnya adalah status Sumarna sebagai pekerja resmi yang terlindungi jaminan sosial. Keluarganya berhak menerima santunan ratusan juta rupiah dari negara, sehingga yang lebih penting dipikirkan adalah masa depan anak-anaknya.

"Ketiga, almarhum ini merupakan anggota sekuriti yang memiliki asuransi ketenagakerjaan dan mendapat hak asuransi ketenagakerjaan Rp418 juta sehingga keluarga almarhum sebenarnya memiliki keuangan yang cukup. Yang harus dipikirkan adalah masa depan anak," tuturnya.

Pernyataan Dedi terbukti benar. Ahli waris Sumarna kini menerima santunan dan manfaat jaminan sosial dari BPJS Ketenagakerjaan senilai Rp418.133.773, termasuk beasiswa pendidikan bagi dua anak almarhum. Penyerahan santunan dilakukan langsung kepada istri korban, Siti Maryam, pada Kamis (30/7/2026).

"BPJS Ketenagakerjaan memberikan hak ahli waris berupa santunan kurang lebih Rp418 juta. Jadi, ini merupakan hak dari perlindungan jaminan sosial yang diberikan secara langsung dan tunai," ujar Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Trisna Sonjaya.

Selain santunan kematian, kedua anak korban juga memperoleh manfaat beasiswa pendidikan sesuai ketentuan program. Saat ini anak sulung Sumarna masih duduk di kelas XII SMK, sedangkan anak keduanya di bangku kelas IV sekolah dasar.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags