MURIANETWORK.COM - Perjanjian New START, pakta pengendalian senjata nuklir strategis antara Amerika Serikat dan Rusia, secara resmi berakhir pada 5 Februari 2026. Berakhirnya kesepakatan yang mengikat dua negara dengan lebih dari 80 persen hulu ledak nuklir dunia ini menandai babak baru yang penuh ketidakpastian dalam tata kelola persenjataan global, di tengah tensi geopolitik yang tinggi.
Mengenal New START dan Batasan yang Berlalu
Ditandatangani pertama kali pada 2010, Perjanjian New START merupakan tonggak penting dalam diplomasi keamanan internasional pasca-Perang Dingin. Pakta ini menetapkan batasan ketat, membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dioperasikan masing-masing negara hingga 1.550 unit. Angka ini merepresentasikan pengurangan hampir 30 persen dari batas yang disepakati sebelumnya pada 2002.
Lebih dari sekadar angka, perjanjian ini juga membangun mekanisme verifikasi yang transparan. Kedua pihak diberi hak untuk melakukan inspeksi di lokasi persenjataan satu sama lain, sebuah langkah vital untuk membangun kepercayaan. Sayangnya, praktik inspeksi ini terhenti sejak pandemi Covid-19 dan tidak pernah benar-benar dipulihkan, melemahkan salah satu pilar utama perjanjian jauh sebelum masa berlakunya habis.
Peringatan dari Panggung Global
Berakhirnya New START telah memicu kekhawatiran mendalam di kalangan diplomat dan pengamat keamanan. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyuarakan keprihatinan yang tajam, menyebut momen ini sebagai titik genting bagi stabilitas dunia.
"Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, kita menghadapi dunia tanpa batasan yang mengikat pada persenjataan nuklir strategis Federasi Rusia dan Amerika Serikat," ungkap Guterres dalam pernyataannya.
Ia menegaskan bahwa perjanjian seperti New START telah berkontribusi besar pada keamanan kolektif. "Pembubaran pencapaian selama beberapa dekade ini terjadi pada waktu yang paling buruk -- risiko penggunaan senjata nuklir berada pada tingkat tertinggi dalam beberapa dekade," lanjutnya.
Di akhir pernyataannya, Guterres mendesak kedua negara adidaya itu untuk segera mengambil langkah diplomatik. Ia menyerukan agar Moskow dan Washington "untuk segera kembali ke meja perundingan dan menyepakati kerangka kerja pengganti".
Masa Depan yang Suram dan Ancaman Perlombaan Senjata
Tanpa kerangka hukum yang membatasi, secara teknis Rusia dan Amerika Serikat kini bebas untuk memperluas atau memodernisasi arsenal nuklir mereka tanpa batas numerik yang jelas. Situasi inilah yang memunculkan kekhawatiran akan dimulainya kembali perlombaan senjata nuklir, sebuah skenario yang telah lama dihindari komunitas internasional.
Para analis mengamati bahwa vakum perjanjian ini muncul dalam konteks hubungan bilateral yang sangat dingin, menyulitkan pembicaraan pengganti. Ketiadaan dialog strategis, ditambah dengan hilangnya mekanisme transparansi inspeksi, menciptakan kondisi yang berpotensi meningkatkan salah tafsir dan ketidakstabilan strategis di kancah global.
Artikel Terkait
Gerindra Bagikan Ribuan Sembako dan Bibit Pohon untuk Peringati HUT ke-18
Pandji Pragiwaksono Penuhi Panggilan Klarifikasi Polisi Soal Materi Mens Rea
Wamensos Soroti Pentingnya Sekolah Rakyat Cegah Tragedi Pendidikan di NTT
Pria di Riau Tersedak Paku 5 cm, Berhasil Dikeluarkan dari Paru-Paru