Puncak keheranan justru muncul saat membicarakan proses konsolidasi harga dengan LKPP di 2022. Tio mengaku tak paham detailnya, tapi dia mendengar banyak keluhan.
Jawaban itu jelas mengejutkan. "Masak terlalu murah?" timpal jaksa, heran. Di pengadilan korupsi, keluhan yang biasa terdengar adalah soal harga yang membengkak, bukan sebaliknya.
Jaksa pun mengingatkan bahwa Tio telah disumpah. Tio tetap pada pendiriannya. "Iya benar Pak, yang saya dengar begitu. Kalau mahal kan semuanya bisa masuk Pak," timpalnya. Menurutnya, harga hasil konsolidasi itu justru terasa kemurahan untuk beberapa merek tertentu, sehingga membuat mereka "berat" untuk ikut.
Di sisi lain, dakwaan yang dibacakan jaksa sebelumnya sungguh berat. Kerugian negara dalam kasus ini ditaksir mencapai Rp 2,1 triliun. Angka fantastis itu merupakan akumulasi dari dua hal: kemahalan harga laptop Chromebook senilai Rp 1,56 triliun dan pengadaan perangkat lunak CDM senilai 44 juta dolar AS (sekitar Rp 621 miliar) yang dianggap tidak diperlukan serta tak memberi manfaat.
Roy Riady, salah seorang jaksa, dengan tegas membacakan rincian angka itu di persidangan. Semua berangkat dari laporan audit BPKP. Sidang yang menyangkut program digitalisasi pendidikan Kemendikbudristek periode 2019-2022 ini, dengan demikian, masih akan panjang.
Artikel Terkait
Prabowo Soroti Sampah Bali, Satgas Khusus Segera Berjaga di Kuta
Kapolri dan Wamendagri Layat Eyang Meri, Istri Hoegeng yang Baru Saja Rayakan Seabad
Prabowo Pertanyakan Nasib Rumah Radio Bung Tomo, Kini Tinggal Pagar dan Kenangan
Biro Travel Bungkam, Aliran Uang ke Oknum Kemenag Masih Disembunyikan