Isu pemangkasan kuota tambang, terutama untuk nikel, belakangan ini menghangat. Dan pasar pun bereaksi. Harga komoditas logam, khususnya nikel, merangkak naik dalam dua pekan terakhir. Apa penyebabnya? Spekulasi. Pasar sedang menanti-nanti keputusan pemerintah Indonesia soal kemungkinan pengurangan kuota penambangan bijih.
Di tengah situasi ini, Bahana Sekuritas justru melihat peluang. Dalam riset terbarunya per 14 Januari 2026, mereka mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor tambang logam. Saham-saham emiten di sektor ini, dalam cakupan Bahana, memang sudah menguat dan bahkan mencapai target harga sebelumnya. Tapi analis mereka tak berhenti di situ.
Merespons perkembangan itu, Bahana melakukan penyesuaian. Mereka menaikkan target harga untuk dua emiten: Vale Indonesia (INCO) dan Aneka Tambang (ANTM). Tak hanya itu, target harga untuk Merdeka Copper Gold (MDKA) dan Trimegah Bangun Persada (NCKL) juga direvisi naik. Kenaikan ini bukan tanpa dasar. Ini mencerminkan kenaikan valuasi global di sektor serupa, di mana rata-rata EV/EBITDA untuk tahun fiskal 2026-2027 kini lebih tinggi ketimbang posisi November 2025.
Nah, dari sekian banyak saham, Bahana punya pilihan utama. Mereka menambahkan MDKA ke dalam daftar itu dan tetap mempertahankan NCKL. Alasannya sederhana namun masuk akal: perusahaan tambang yang terintegrasi dinilai punya peluang lebih besar untuk merealisasikan kuota dibanding yang cuma mengandalkan penjualan ke pihak ketiga.
Namun begitu, semuanya tak semudah itu. Bahana mengingatkan, reli harga ini bisa bertahan atau tidak sangat bergantung pada eksekusi RKAB di lapangan. Komentar terbaru dari Kementerian ESDM juga patut dicermati. Mereka mengindikasikan bahwa penyesuaian kuota akan menyesuaikan kebutuhan smelter. Artinya, pemangkasan drastis hingga 34 persen per tahun mungkin tak akan terjadi. Ekspektasi pasar bisa saja meredam.
Di sisi lain, potensi kenaikan harga tetap terbuka lebar. Apalagi jika pengendalian pasokan benar-benar diperketat. Kita sudah lihat pola serupa terjadi pada CPO dan timah sebelumnya. Tapi hati-hati, menurut Bahana, kenaikan saham saat ini lebih banyak digerakkan oleh posisi spekulatif para investor. Bukan karena pasokan fisik yang benar-benar ketat.
Buktinya? Lihat saja data di bursa. Posisi net long investor di London Metal Exchange (LME) melonjak. Tapi anehnya, persediaan nikel di LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) justru masih numpuk di level tertinggi. Situasinya memang agak paradoks.
Lantas, bagaimana jika pemangkasan kuota benar-benar terjadi? Katakanlah hingga sekitar 100 juta wet metric ton bijih. Bahana memperkirakan produksi logam nikel bisa turun 0,7-1,0 juta wmt. Jumlah itu, menurut mereka, cukup untuk menyerap kelebihan pasokan nikel kelas-1 yang diproyeksikan mencapai 260 ribu ton pada tahun 2026.
Meski prospeknya terlihat cerah, risiko tetap mengintai. Bahana menyoroti beberapa hal: pelemahan harga nikel yang tak terduga, ketidakpastian kebijakan yang selalu jadi momok, dan yang tak kalah penting, keterlambatan eksekusi proyek di lapangan. Tiga hal ini bisa menjadi batu sandungan.
Seperti biasa, semua analisis dan rekomendasi ini akhirnya kembali ke tangan investor. Keputusan untuk membeli atau menjual, tentu saja, sepenuhnya ada di pundak mereka.
Artikel Terkait
Saham BRI Tertekan, Dirut Sebut Fundamental Solid dan Imbau Investor Fokus pada Dividen
Pemerintah Targetkan Program B50 Serap 1,9 Juta Tenaga Kerja pada 2026
ESSA Cetak Laba Bersih Melonjak 131 Persen di Awal 2026, Didorong Kenaikan Harga Amoniak
Powell Tolak Mundur, Pilih Lanjut sebagai Gubernur The Fed Usai Jabatan Ketua Berakhir