Di ruang rapat Komisi VIII DPR, Senayan, Selasa lalu, suasana cukup tegang. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memaparkan data bencana yang fluktuatif. Upaya menekan dampak bencana, katanya, sempat menunjukkan hasil. Dari 2021 hingga 2023, trennya turun. Tapi tahun 2024, angkanya melonjak lagi.
"Itu gara-gara beberapa bencana yang sulit diprediksi," ujar Suharyanto.
Dia menyebut letusan Gunung Lewotobi Laki-laki dan banjir bandang atau yang dikenal lokal sebagai galodo di Sumatera Barat. Dua peristiwa itu, selain merenggut nyawa, juga menghancurkan infrastruktur dan rumah warga. Kerusakannya cukup parah.
Namun begitu, pukulan terberat justru datang di penghujung 2025. Tepatnya tanggal 25 dan 26 November. Bencana besar melanda tiga provinsi sekaligus di Sumatera. Peristiwa tunggal itu langsung meledakkan statistik dampak bencana ke level yang mengkhawatirkan.
Artikel Terkait
BNPB Waspadai Siklus Kering 2027, Ancaman Karhutla Besar Bisa Kembali
BNPB Terbatas Dana Mitigasi, Andalkan Pinjaman Spanyol untuk Hadapi Banjir dan Longsor
Trump Tuntut Harvard Bayar Denda Fantastis Rp 16,7 Triliun
Jembatan Merah Putih Presisi Dikebut, Siswa SDN 014 Putat Segera Miliki Akses Aman