Perhatian dari Amerika Serikat itu bukan yang pertama. Beberapa bulan sebelumnya, Prabowo juga menerima kunjungan dari Rockefeller Institute. Lembaga ternama itu, katanya, punya pandangan khusus tentang MBG.
"Tiga-empat bulan lalu, kita terima rombongan dari Rockefeller Institute datang ke saya. Dia mengatakan, Makan Bergizi Gratis itu adalah investasi yang terbaik yang bisa dilakukan oleh suatu negara," cerita Prabowo.
Intinya, program ini dinilai sebagai investasi jangka panjang yang strategis untuk membangun sumber daya manusia. Menurut hitungan yang disampaikan lembaga tersebut, dampak ekonominya bisa berlipat ganda. "Satu dolar atau Rp 1 yang kita keluarkan untuk Makan Bergizi akan menimbulkan lipat ganda, minimal 5 kali. Dan dalam jangka panjang, akan 30 lipat kali investasinya itu," papar Prabowo.
Namun begitu, di tengah apresiasi dari luar negeri itu, Prabowo menyelipkan kritik halus. Dia merasa masih ada keraguan dari dalam negeri terhadap program ini. "Ada kecenderungan, para orang pintar kita lebih percaya orang asing daripada bangsanya sendiri. Ya cek saja ke Rockefeller Institute, karena mereka tidak akan percaya dengan orang-orang ini," ucapnya.
Meski demikian, dia tetap bersikap terbuka. "Saya nggak ngerti mereka itu pemikirannya seperti apa, tapi tetap harus kita ajak bicara," tandasnya. Bagi Prabowo, MBG adalah program prioritas, berdampingan dengan upaya swasembada energi dan pangan. Dan kini, dengan sorotan dunia yang mulai mengarah, program ini seakan mendapat angin baru.
Artikel Terkait
Pramono Anung Usulkan Flyover 2 Kilometer untuk Atasi Banjir dan Macet di Daan Mogot
Tiga Kecamatan di Serang Masih Terendam, Ratusan Warga Mengungsi
Yogyakarta Masuki Era Tilang Elektronik dengan ETLE Genggam
Terdakwa Hukuman Mati Kabur Usai Sidang di Lubuk Pakam