Namun begitu, kita harus ingat: Rafah bukan sekadar pintu biasa. Ia adalah gerbang vital, satu-satunya harapan bagi banyak warga sipil dan kiriman bantuan. Sayangnya, nasibnya tak pernah stabil. Perbatasan ini ditutup paksa sejak pasukan Israel menguasainya di bulan Mei 2024. Pernah dibuka sebentar di awal 2025, lalu kembali terkunci.
Penutupan itu punya alasan politis yang pelik. Israel bersikukuh tidak akan membuka Rafah sebelum jenazah Ran Gvili sandera terakhir mereka di Gaza dikembalikan. Nah, jenazahnya sudah ditemukan beberapa hari lalu dan sang prajurit telah dimakamkan di tanah airnya. Rintangan besar itu akhirnya tersingkir.
Kini, arus masuk dan keluar akan diizinkan dengan koordinasi ketat. Mesir jadi mitra utama, sementara Israel masih melakukan pemeriksaan keamanan untuk setiap individu. Misi Uni Eropa akan mengawasi prosesnya. Meski terdengar sudah siap, masih banyak tanda tanya yang menggantung.
Contohnya, berapa banyak orang yang benar-benar bisa lewat? Lalu, bagaimana dengan mereka yang ingin pulang ke Gaza apakah diizinkan kembali? Detail-detail penting itu masih kabur, menunggu kepastian di tengah situasi yang tetap rapuh.
Rafah terbuka. Tapi di tanah konflik seperti ini, tidak ada yang benar-benar pasti.
Artikel Terkait
Petugas Satpol PP Kebumen Tewas Dibacok Saat Evakuasi Warga Gangguan Jiwa
Diplomasi Megawati di Balik Kemenangan NU-Muhammadiyah di Ajang Bergengsi Abu Dhabi
Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Pulau Saringi NTB Dini Hari
Pesta Miras Berujung Petaka: Remaja 14 Tahun Jadi Korban Pemerkosaan Bergilir di Minut