Rafah akhirnya terbuka lagi. Setelah berbulan-bulan terkunci rapat, perbatasan vital antara Gaza dan Mesir itu mulai ramai dengan aktivitas. Yang pertama kali menyeberang bukanlah orang biasa, melainkan mereka yang paling membutuhkan pertolongan: pasien dan korban luka perang dari Palestina.
Menurut sejumlah saksi di lokasi, ambulans-ambulans Mesir sudah mulai berdatangan membawa mereka. Rombongan itu didampingi pengawal, melintasi tanah gersang yang memisahkan dua dunia.
"Mereka telah mulai berdatangan dengan ambulans Mesir, didampingi oleh beberapa pengawal," ujar seorang pejabat Kesehatan Mesir, seperti dilaporkan AFP, Selasa lalu.
Begitu tiba di sisi Mesir, petugas medis langsung sigap. Mereka memberikan perawatan pertama, lalu memindahkan para korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Situasinya terlihat mendesak, tapi tertata.
"Sejauh ini sudah tiga ambulans yang tiba," lanjut pejabat itu, memberikan gambaran awal. "Mereka membawa sejumlah orang sakit dan terluka, yang segera diperiksa pada saat kedatangan untuk menentukan ke rumah sakit mana mereka akan dipindahkan."
Ini baru gelombang pertama. Rencananya, penyeberangan pada Senin (2/2) akan mengizinkan 150 warga Palestina masuk. Rinciannya, 50 pasien masing-masing dengan dua pendamping ditambah 50 warga lainnya. Angka yang mungkin terasa kecil dibanding kebutuhan, tapi setidaknya ini sebuah awal.
Artikel Terkait
Petugas Satpol PP Kebumen Tewas Dibacok Saat Evakuasi Warga Gangguan Jiwa
Diplomasi Megawati di Balik Kemenangan NU-Muhammadiyah di Ajang Bergengsi Abu Dhabi
Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Pulau Saringi NTB Dini Hari
Pesta Miras Berujung Petaka: Remaja 14 Tahun Jadi Korban Pemerkosaan Bergilir di Minut