Suara tangisan sebenarnya sudah terdengar dari dalam mobil, bahkan sebelum pintu terbuka. Satu per satu mereka turun dengan langkah gontai, air mata tak terbendung. Kerabat yang menunggu segera memapah mereka, menuntun langkah ke garasi rumah. Di sanalah, jenazah bocah lelaki berusia enam tahun, AO, disemayamkan. Sementara bagian lain rumah masih dikepung garis polisi, mengingatkan pada tragedi mengerikan yang baru saja terjadi.
Purwanto dan kakaknya tampak benar-benar remuk. Mereka terus-menerus menyeka air mata yang tak henti mengalir. Pelayat lain yang hadir pun ikut terbawa, suasana haru itu begitu menular.
Peristiwa nahas ini sendiri terjadi sehari sebelumnya, Kamis sore sekitar pukul 15.45 WIB. Aksi perampokan yang sungguh sadis itu menewaskan anak kedua Purwanto, AO, dan melukai sang istri, Daryanti (34). Saat ditemukan, Daryanti terbaring lemah dengan luka-luka dan darah yang menggenang. Sebuah keluarga yang hancur berantakan oleh sebuah aksi brutal.
Artikel Terkait
Jembatan Tua Ambruk, Empat Desa di Pandeglang Terisolasi
Red Notice Interpol Terbit, Ruang Gerak Tersangka Korupsi Minyak Riza Chalid Dikepung
Jembatan Harapan di Desa Belimbing: Polri dan Warga Bahu-Membahu Akhiri Isolasi
Janji Haji Rp 1,2 Miliar Berujung Pembunuhan di Gumuk Pasir