Sejak kasus Hogi mencuat, ada kegelisahan yang menggumpal di dada. Ia jarang diucapkan, tapi terasa. Intinya sederhana: kalau menolong orang malah bisa berujung masalah, lalu kita harus bagaimana? Publik gelisah. Hogi, yang menjadi tersangka terkait dua pelaku jambret yang tewas, kini berada di pusat badai itu.
Ini bukan cuma perkara hukum. Lebih dari itu, ini seperti alarm sosial. Bunyinya pelan, tapi menandai sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana sebuah sistem, tanpa sadar, bisa mendidik warganya untuk berhenti menghormati kebenaran.
Nah, ilmu perilaku sudah sering mengingatkan. Manusia itu pada dasarnya bukan makhluk yang patuh karena tahu aturan. Kita adalah makhluk yang belajar dari apa yang "berhasil" dan apa yang "berisiko". Ambil contoh studi klasik soal penitipan anak di Barat dulu.
Waktu itu, pengelola mengenakan denda kecil buat orang tua yang telat menjemput. Niatnya bagus, biar disiplin. Tapi hasilnya? Justru bikin pusing.
Orang tua malah makin sering telat. Kok bisa? Denda kecil itu mengubah segalanya. Ia mengikis rasa bersalah. "Telat itu salah" yang awalnya bernuansa moral, berubah jadi transaksi biasa. Asal bayar, urusan selesai.
Yang lebih mencengangkan, saat denda itu akhirnya dicabut, kebiasaan telat tak kunjung membaik. Normanya sudah rusak. Moral digantikan harga. Pesannya jelas: saat pelanggaran diberi sinyal "bisa ditoleransi", rasa bersalah itu pun menguap.
Riset lain, yang melibatkan lebih dari 1.400 responden di 11 negara Eropa, memperkuat temuan ini. Kenapa orang tetap melanggar aturan meski tahu itu salah? Bukan karena mereka tidak paham. Bukan juga karena kebal hukuman.
Masalah utamanya satu: melanggar sering kali "terasa aman".
Ketika hukuman dirasa tidak konsisten, tidak proporsional, atau jauh dari nalar moral biasa, otak kita gagal mengaitkan "kesalahan" dengan "akibat". Akibatnya, hukuman kehilangan daya didiknya. Yang tersisa cuma kepatuhan semu, atau sekadar taktik menghindar.
Di sisi lain, lihatlah banyak negara maju. Di sana, bahkan pejalan kaki kelompok yang dianggap paling rentan bisa dimintai pertanggungjawaban hukum kalau melanggar dan membahayakan orang lain. Pertanyaannya bukan cuma "siapa yang kena", tapi "siapa yang menciptakan keadaan berbahaya".
Prinsip seperti inilah yang bikin orang merasa aman untuk taat.
Sekarang, mari kita jujur melihat realita di sekitar. Siapa yang tidak pernah menyaksikan adegan-adegan ini?
- Orang melawan arus, tapi malah yang marah dan merasa paling benar.
- Penyerobot antrean justru dilayani lebih dulu.
- Keterlambatan dimaklumi, sementara yang datang tepat waktu harus menunggu.
- Yang tertib malah selalu dipersilakan untuk mengalah.
Pelan tapi pasti, masyarakat belajar pesan yang berbahaya dari pola-pola itu.
Artikel Terkait
Wamendagri Soroti Peran Vital BUMD, Integritas Pengelola Jadi Penentu
Tuntas Tahap Pertama, Jalan Payakumbuh-Sitangkai Siap Lanjut ke Batusangkar
Mimpi Air Bersih Warga Kampung Tambat Akhirnya Terwujud
Jogging Track Liar di Situ Tujuh Muara Akhirnya Runtuh Setelah Operasi Gabungan